Showing posts with label xenophobia. Show all posts
Showing posts with label xenophobia. Show all posts

Thursday, 30 September 2010

[Xenohobia] In Memoriam seorang Teman


Muka oriental bermata sipit sangat sulit ditemukan di kampungku. Ketika beranjak ke ibukota kabupaten, barulah penduduk kampung bisa bertemu dengan mereka.

Tak adanya komunikasi yang intensif, serta lebih cepatnya isu berhembus, membuat berbagai cerita tak sedap tentang mereka berseliweran di sekitarku.

Aku gadis kampung yang mulai merantau ke ibu kota provinsi ketika SMA, mulai berkenalan dengan teman-teman multietnis. Berbekal didikan kedua orangtuaku untuk tidak berburuk sangka dengan siapapun, maka alhamdulillah akupun bisa berteman dengan teman-teman berbagai suku, termasuk kawan berwajah oriental.

Saat kuliah, lebih banyak lagi teman dari berbagai tempat berdatangan. Teman keturunan oriental pun lebih banyak lagi. Mereka memang dikenal sebagai pribadi yang gigih, sehingga sering menempati prestasi yang luar biasa di kampusku.

Meskipun aku mengenal mereka dengan baik, namun pertemanan kami tidak begitu intensif hingga saya diberi kesempatan bekerja bersama dengan mereka setelah lulus kuliah.

Ya, di Oppinet, sebuah Research Consortium dibawah LPPM ITB kala itu, aku bekerjasama dengan teman - teman yang luar biasa.
di Dufan bersama para Oppinet'ers, Maria tepat disebelahku memakai topi

Salah satunya Maria. Gadis keturunan cina yang luar biasa baiknya. Jarang-jarang kami menemukannya berwajah muram. Kalaulah berwajah muram, pasti karena sesuatu yang membuat hatinya sangat Bete. Tawa renyahnya pun sering terdengar, lucu dan asik. Tangannyapun ringan membantu, membuat si Rela yang paling oon dibidang pemrograman jadi banyak terbantu.

Beberapa tahun kemudian kami harus berpisah. Maria yang cerdas mendapatkan pekerjaan disebuah perusahaan besar di Jakarta. Kamipun lama tidak bertemu dan bertukar kabar. Hingga terdengar berita, Maria sakit kanker darah atau dikenal leukimia.

Sedih? Tentu, sedih yang teramat sangat. Hanya bisa menanyakan kabarnya ke teman kami yang satu pekerjaan dengannya.
Sedih? Sangat, apalagi ketika tidak bisa ikut menjenguk saat dia dirawat di Boromeus, padahal jaraknya dekat dengan tempat kerjaku.

Perjuangannya untuk melawan kanker sangatlah gigih, hingga berobat ke negri Cinapun sudah direncanakan. Namun entah kenapa hal itu tidak jadi dilaksanakan.

Hingga akhirnya berita sedih itu datang, Maria meninggalkan kami untuk selama-lamanya.

Meskipun kedekatan kami tidaklah begitu lama, dan mungkin tidak sedekat yang lainnya. Namun Maria menggoreskan kenangan yang indah dalam benakku. Pribadi yang sangat santun, ceria dan penolong. Membuyarkan isu-isu yang sering berseliweran tentang warga keturunan.

Memantapkan satu lagi panah pelajaran dalam benakku, bahwa kita tidak bisa menilai orang hanya dari isu yang berhembus. Kenalilah dengan baik, maka kau akan menemukan sejuta pesona yang tak pernah kau bayangkan..

in memoriam Maria

-------::----------------
kalo masih sempet, ikutan lagi lombanya Mbak Lessy

[Xenophobia] Johor membiasakan telingaku

Meskipun anak bungsu dari 4 bersaudara, namun aku tidak pernah dipanggil adek, karena adik-adikku banyak. Yup adik sepupuku banyak, sehingga aku lebih dikenal dengan panggilan Teteh. Si Teteh kecil, karena banyak adikku yang lebih dewasa dariku. Oleh karena itulah, aku hanya terbiasa dengan panggilan rela atau Teteh, dan terkadang Neng oleh sebagian teman SDku dan orang tuanya.

--:--
Akhir 2003.

Sesuatu hal membuatku harus berkomunikasi dengan anaknya teman Mamahku. Dia berasal dari daerah yang sama denganku, namun menyelesaikan kuliahnya di Jogja. Budaya Jogja yang santun dan penuh tatakrama membentuknya dan membiasakannya memanggil setiap orang dengan panggilan didepannya. Sehingga begitupun padaku, seseorang yang berusia jauh dibawahnya, dia memanggilku, Dek. Jengah rasanya, hingga dengan cara yang baik kukatakan, aku tidak nyaman dengan panggilan 'baru' itu, serasa masih anak kecil.


Ramadhan 2005.

Pengalaman yang luar biasa, melakukan survey ke sebuah daerah kecil di Provinsi Riau, Zamrud namanya. Kami tinggal ditempat para Insyinyur minyak tinggal kalo lagi di lapangan, apa ya namanya? Kok tiba-tiba lupa.
Selama disana, kebutuhan kamipun terpenuhi dengan baik, dari mulai makan sampai pakaian yang dicucikan. Nah, sebagai jembatan komunikasi maka seorang pemuda usia belum 20an yang kemudian sering datang menemui kami berempat. Entah itu untuk mengambil cucian, mempersilahkan makan, bahkan untuk sekedar mengambilkan hal-hal yang kecil. Dan pemuda itulah yang kemudian memanggil kami, saya dan satu teman perempuan saya dengan panggilan, 'Kaka'.
Pertama kali mendengarnya, kami merasa punya adek tiba-tiba . Maklum, kami belum tahu saat itu kalo panggilan Kaka sangat lazim untuk wanita yang belum menikah di daerah sana. Sama seperti panggilan Mbak kalo di Jawa.
Dan karena dia lebih sering memanggil saya dibandingkan dengan teman saya, jadilah saya suka diledekin ketika dia datang,
"La, tuh adik kamu datang"
Saya cuma nyengir aja saat itu. Yaa namanya juga kami tidak biasa dan tidak tahu.


Awal 2006

Dari kampus, beralih ke perumahan. Terbiasa dikampus dipanggil nama oleh orang yang lebih tua, tiba-tiba ketika bergaul disekitar rumah saya dipanggil Teteh oleh seseorang yang usianya jauh diatasku. Gatel rasanya.


Akhir 2006

Tiba - tiba seorang Bapak yang kukenal memanggilku dengan panggilan, "Bu". Oh nooo, hancurlah rasa percaya diriku


Sekitar 2006-2007

Meskipun sudah biasa orang yang tidak dikenal memanggilku Mbak, namun tidak bagi yang sudah kenal, mereka biasa memanggil nama atau Teteh. Hingga satu adek kecil memanggilku Mbak dengan permanen, dan ketika kubetulkan dengan panggilan Teteh, dia menolak dan tetap pada keputusannya


Januari & Juni 2007

Kaka iparku memanggilku, Dek. Dan adik iparku memanggilku, Mbak.
Akupun menikmatinya


September 2007

Sampailah kami di Johor, awal puasa waktu itu, hingga beberapa undangan buka bersama-pun menghampiri. Saatnya istri dari Teguh Prakoso ini berkenalan dengan tetangganya. Sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, maka di awal aku sudah berkata pada tetangga-tetangga manisku nan baik hati.
"Nama saya Rela, saya gak mau dipanggil ibu, panggil saja Rela"
Hahaha, sebuah ultimatum di awal perjumpaan.

Meskipun di awal cerita, sudah kutuliskan bahwa aku tidak nyaman dengan berbagai panggilan kepadaku selain Rela untuk yang lebih tua, dan Teteh untuk yang lebih muda, namun berada di Johor memberiku pandangan yang beda.

Aku mulai terbiasa dipanggil Mbak bahkan oleh yang lebih tua. Aku mulai memahami perbedaan budaya. Ketika di tempatku terasa lebih akrab dengan memanggil nama atau panggilan Neng kepada yang lebih muda. Maka aku mengambil kesimpulan, bahwa di tempat lain untuk kesopanan maka panggilan Mbak adalah yang paling nyaman. Meskipun usianya jauh dibawah.

Begitupun dengan panggilan Dek, rasanya lebih hangat saat ini, tak jengah lagi. Tidak merasa seperti anak kecil, namun seperti panggilan kaka pada adeknya.

Negri Melayu apalagi, panggilan Kaka, Akak terdengar dimana-mana. Panggilan untuk seseorang yang sudah akrab, ataupun panggilan kepada seseorang yang masih lajang. Hemmh untuk kesopanan juga. Maka terbiasalah telingaku dipanggil, 'Ka'.

Bagaimana dengan panggilan Ibu? Meskipun aku sudah berulangkali menolaknya, namun panggilan kehormatan itu masih sering terdengar menyapaku. Yaa, di Johor ini aku mulai membiasakan panggilan Ibu mendahului nama asliku. Bagaimana lagi, memang diriku sudah ibu-ibu . InsyaAlloh segera memiliki dua buah hati, tentulah pantas dipanggil Ibu. Meskipun penolakan yang dulu ada itu karena merasa belum dewasa, dan tidak cukup arif untuk menyandang panggilan yang teramat mulia itu, Ibu. Maklum si ibu yang satu ini masih sering berlaku seperti anak -anak

Johor, berkumpulnya saudara-sadaraku dari berbagai suku, membukakan dan membiasakan telingaku atas panggilan-panggilan yang tak biasa sebelumnya. Akupun belajar menikmatinya, dan mengikatkan ukhuwah setelahnya. Merasa memiliki keluarga besar di negri yang jauh dari kampung halaman.

Namun, panggil saja aku Rela, itu cukup untuku


----:----
inspired by Mbak Rinda untuk ikutan lombanya Mbak Lessy kalo masih sempet

Tuesday, 21 September 2010

[Xenophobia] 'Multiply'

Haha, bukan (hanya) karena pingin dapat hadiah dari Mbak Lessy, namun seperti yang pernah saya sampaikan di komen saya ke mbak Lessy (kalo gak salah), bahwa saya memang sangat penakut dan memiliki ragam ketakutan. Tak hanya satu, kawaaan..
Oleh karenanya, sekalian menyelam nyari mutiara, so ketakutan - ketakutan ini akan saya urai menjadi cerita-cerita. Berharap bisa menjadi pelajaran untuk yang membacanya...
aamiin ^__^

Oia saya ambil sisi ketakutan saya yang sesuai dengan Xenophobia saja ya, dimana katanya Xenophobia itu adalah ketakutan terhadap sesuatu yang asing...

Pertama, saya sering takut dan gak pede berada di tempat yang baru. Kepribadian saya berubah total. yang tadinya rame ceriwis, dan gak bisa diam, mendadak menjadi anggun dan penuh wibawa, serta irit berbicara. Ahh ini mah wajar kali ya, banyak yang mengalaminya...

Kedua, saya juga takut mencoba hal-hal yang baru.
Percayalah, bahwa saya memerlukan waktu 3 tahun untuk belajar renang. Keberhasilan saya untuk bisa mengapung di dalam air ini karena kecintaan yang luar biasa terhadap air. Kalo bukan karena motivasi cinta itu, mungkin sampai saat ini saya masih berenang dengan gaya batu.
Motivasi lainnya untuk menaklukan ketakutan terhadap hal yang baru ini adalah adanya kebutuhan yang mendesak. Contohnya saya alami sendiri.
Sewaktu kecil saya tidak berani untuk belajar menaiki sepeda. Sejuta ketakutan menyelimuti hati dan jiwa saya. Hingga sepeda cantik-pun teronggok di gudang, menyedihkan . Akhirnya beberapa tahun kemudian saya merasa wajib untuk bisa mengendarai motor. Karena rumah saya yang terpencil di daerah lembah, sementara usia remaja membuat saya merasa perlu bergaul dan berbelanja kepasar , maka saya merasa harus bisa mengendarai sepeda motor. Ya HARUS!!!
Hingga akhirnya dengan tampak gagah berani, padahal hati menciut, saya belajar mengendarai motor.
Bayangkan, betapa sulitnya seseorang yang tidak bisa menaiki sepeda untuk belajar motor. Orang lain yang sudah mahir sepeda, hanya memerlukan satu kali jatuh untuk bisa lancar menaiki motor. Saya perlu lebih dari 3 kali jatuh untuk bisa menaiki motor dengan aman sentosa . Dan setelah bisa menaiki motor, otomatis ketika saya pinjam sepeda sepupu, saya langsung lancar menaikinya... hahahah...
Alah bisa karena kepepet, mungkin peribahasa ini cocok untuku.

Ketiga, saya takut mencoba permainan baru yang memacu adrenalin saya. Dimanapun itu, baik di tempat bermain seperti Dufan, TMII dll, ataupun ketika outbound. Pertama kali datang ke Dufan, tiket terusan saya mubazir, terbuang tak berarti. Bahkan untuk naik bom bom car dan ontang - anting  saja saya tidak mau .
Lalu ternyata di lain waktu saya berhasil menaklukan hampir semua permainan baru di Dufan. Kawan mau tau kuncinya? Kuncinya adalah, karena banyak teman-teman yang ngajakin dan malu kalo gak ikutan  . Yup, kebersamaan dan perasaan ingin sama dengan yang lain ternyata bisa mengalahkan ketakutan kita terhadap sesuatu yang baru.
Begitupun setiap kali ikutan outbound, muka saya akan memucat karena ketakutan yang luar biasa akan tantangan baru yang harus saya hadapi di depan. Tapi perasaan ketika akhirnya berhasil menaklukannya membuat saya jadi pencinta outbound. Dan percayalah, si penakut ini pernah ingin ikutan pecinta alam semasa SMA, namun tidak jadi karena berbagai alasan.

Keempat, hemmh apa ya? Sebentar difikir dulu? Masih banyak sebenarnya ketakutan saya pada hal yang lain, tapi itu akan membuat saya nampak lemah di mata anda . jadi saya simpan saja dulu ya..

Btw, jangan protes kalo judul tampak tidak nyambung dengan isi. Maksudnya adalah Multi phobia, tapi biar keren dan agak -agak gimanaaa gt, jadi saya plesetkan menjadi 'Multiply'

Have a nice weekend teman-teman, semoga semuanya bisa mengalahkan ketakutan anda setiap harinya....


======
Kalo masih sempat mau ikutan lomba Mbak Lessy