Tuesday, 21 September 2010

[Xenophobia] Tak bisa memilih

Saya tak pernah bisa memilih, untuk dilahirkan dari suku apa, ayah yang bagaimana, ibu yang seperti apa serta strata sosial yang akan melekat dalam pundak saya. Karenanya, saya belajar untuk tidak berbangga dengan apa yang melekat dalam diri saya. Namun saya senantiasa bersyukur karena Alloh melahirkan saya dengan keadaan saya seperti sekarang.

--***--

Petang itu sepulang dari negri Singa, aku hanya mampu berselonjor lemas di kursi taksi preman* yang membawa kami dari check point ke rumah.

Di awal perjalanan, Supir Taxi mulai bertanya-tanya tentang asal muasal kami. Dia tahu kami orang sebrang, dia ingin tahu lebih lagi dari daerah mana kami berasal. Tanpa ada prasangka apa-apa kami berdua yang memiliki asal muasal yang hampir sama, menjawab pertanyaan Encik Taxi dengan jujur.

Tiba-tiba dia berkata, " Ya dari daerah X (tempat dimana kami berasal) banyak wanita yang tidak baik (menjual diri)." Lalu bla bla bla...kalimat selanjutnya tidak terdengar lagi oleh telingaku, aku merasa sakit, muak dan perih....

---

Perjalanan pendek bersama suami dan teman baiknya. entah membicarakan apa mulanya. Yang kuingat teman baik itu berkata, " Keluargaku tidak mau bermantukan suku X, karena mereka cantik diluar tapi hatinya tidak baik"

Aku yang diam duduk di kursi belakang, hanya diam dan mencoba menata hati. Aku tidak merasa diri ini cantik, tapi ketika dia men-generalisir bahwa suku X hatinya tidak baik, bukankah aku termasuk di dalamnya? Bagaimana mungkin bisa mengatakan seseorang tidak baik tanpa mengenalnya terlebih dahulu.

Perih....

Kemudian suamiku berkata : "Dulu keluarga kamipun tak mau berbesan dengan suku X, soalnya iparnya kaka iparku matre"
Deg, hatiku bergedup kencang, lagi.
"Tapi sekarang tidak lagi", ujarnya menambahkan.
Aah sedikit tenang hatiku

---  

Ya kuakui, memang ada wanita yang menjual diri di tempatku, sama dengan di tempat -tempat lain. Penyakit masyarakat yang harus dicari obatnya.
Namun bukankah di negri nun jauh disana yang menjadi kiblat begitu banyak orang, lebih banyak lagi wanita yang menjajakan dirinya tanoa malu - malu. Bahkan dilindungi dan diakui oleh negaranya. Tapi tak pernah sekalipun ketika mereka datang ke negri kita, kita kemudian men-genelarisir bahwa mereka wanita yang tidak baik, bukan? Bahkan kita memujanya dan berbangga hati dengan kedatangan mereka.
Tak, tak bermaksud agar kita sinis terhadap mereka. Berbuat baiklah dan hilangkan prasangka seperti adanya terhadap saudara dari negri nun jauh disana, begitupun dengan saudara dari negri sendiri

Ya, di tempatku juga ada wanita yang berwajah menawan dan berhati tidak baik. Namun bukankah di tebaran negri dimanapun akan ada saja wanita seperti itu. Tak berbatas suku dan garis negara?

Ya, di tempatku ada pula wanita yang matre, menilai sesuatu dengan uang. Namun bukankah godaan terberat wanita dimanapun adalah harta? Dan yang bisa selamat adalah orang yang mempunyai keimanan dan prinsip hidup yang kuat, tak peduli dari mana asalnya.

Meskipun budaya dan latar belakang mempengaruhi, namun bukankah setiap pribadi itu unik?
Dan saya percaya, tak ada satupun budaya yang mengajarkan seseorang untuk menjadi sampah masyarakat, bermuka manis tapi berhati buruk, ataupun mengagungkan dunia dan isinya. Hanya sebagian oknum yang tertempa dengan cara yang tak lazim yang mungkin memilikinya.

Yang kurasakan selama aku hidup di kaki gunung yang dingin dan subur itu, aku diajari untuk berlaku sopan pada sesama. Aku diajari untuk menghargai dan mensyukuri hidup yang telah Alloh karuniakan. Akupun diajari untuk senantiasa menempatkan Alloh dan RasulNya di urutan pertama.

Meski aku tidak berbangga hati dengan garis keturunan yang Alloh berikan. Namun aku senantiasa bersyukur atas ketetapaNya. Aku bersyukur dikaruniakan kedua orang tua yang sangat rasional dan proposional dalam memandang hidup. Sehingga ketika ada yang melamar anak gadisnya dari suku yang berbeda dengannya, mereka mau menerimanya, meskipun belum mengenalnya. Hanya berbekal kepercayaan bahwa anak muda itu baik agamanya dan akan menjaga buah hatinya dengan penuh amanah. Bukankah Alloh swt berfirman..
"Sesungguhnya, yang paling mulia antara kamu ialah yang paling bertakwa"(al Hujurat, 49:13)

Allahu'alam bis howab


---::---

ikutan lagi lombanya Mbak Lessy niyyy..
http://wayanlessy.multiply.com/journal/item/470/Xenophobia_Lomba_menulis_tentang_Xenophobia
Semoga masih bisa diitung, kalo nggak ya gpp.. semoga bisa ditarik hikmahnya ..^__^

=======
Taxi preman : taksi tapi menggunakan mobil pribadi bukan taxi resmi
check point : tempat imigrasi antar negara berada

12 comments:

  1. kadang2 kalo diomongin begitu pengen nyeletuk teh
    tahun berapa sih ini pak/bu..masih aja rasis

    *suara hati yg sering bete gara2 meyandang keturunan dari suku oenganut matrilineal..

    ReplyDelete
  2. masih banyak ya prilaku serupa di negeri kita ini??

    nyatanya memang begitu yang berkembang di masyarakat, lebih sering menyimpulkan tanpa mau mencoba memahami lebih dekat

    tulisan yang asyik

    ReplyDelete
  3. :)
    yang miris, kadang yang menyampaikannya adalah orang yang berpendidikan .. ^__^

    ReplyDelete
  4. tak banyak (semoga)

    memperbaiki diri sendiri, dan berintrospeksi mungkin itu yang bisa saya lakukan ...

    salam kenal ...

    ReplyDelete
  5. Apalagi orang padang lho rela, suka ga mau bermantukan dari suku X, seburuk buruknya dapat mantu dirantau daripada suku X mendingan suku XX, aku yang menikah beda suku n adat diceramahin sepupu, kenapa ga nikah ama orang sekampung, suami yang adatnya juga beda, sebelum nikah juga dipertanyakan kenapa ga nikah ama orang sekampung?? Capee dehh... Udah merantau jauh ditengah laut begini, menikah masih seiman n satu warga negara aja udah syukur syukur banget kan yah... (Curcol dehhh...)

    ReplyDelete
  6. sebenernya xenophobia itu apa sih ?

    ReplyDelete
  7. taksi gelap ya? kalo taksi preman kok seperti seraaam

    ReplyDelete
  8. iya yaa kenapa yaaaa...
    padahal kan setiap orang itu ada kebaikan dan kekurangannya..
    bagaimana rasanya menikah dengan perbedaan adat itu Uni...

    dan bagaimana perasaan Uni berteman dengan seseorang dari suku X?

    ^__^

    ReplyDelete
  9. apa ya Teeeehhhh .. ditanya gt jadi bingung d

    ReplyDelete
  10. iya mbak ...taxi gelap..
    maksudnya preman itu mobilnya mobil pribadi :p

    ReplyDelete
  11. Temenku ada kok yang suku X dan menikah dengan orang padang, kasian deh dia, awal2 nikah berat banget dia diterima ama kel padang, n karena ga mau dibilang cuma jd istri matre, dia milih kerja biar ga direndahin terus, tapi suaminya mohon2 biar dia ga kerja, pas dia ga kerja, prasangka buruk dari kel si suami ya dateng lagi... N menikah beda adat n suku itu bukan berat di pasangan suami istrinya, tapi berat di prasangka keluarga masing2... Jd pihak suami ato istri harus bener2 bisa ngejelasin situasi si istri ato si suami... Repot yah..

    ReplyDelete
  12. kasian temannya....cape kali ya rasanya..
    semoga ada jalan keluar, dan prasangka itu menghilang .. aamiin

    ya beda suku, adat, dan budaya membuat warna warni pernikahan tersendiri ^__^
    tapi ada sisi positipnya juga, membuat kita, saya khususnya makin menghargai sebuah perbedaan *__^

    ReplyDelete