Wednesday, 29 June 2011

bila tiba waktunya

bila saatnya kan berakhir
meninggalkan kenangan yang manis

sebelum masanya tiba
kususuri jalannya
kutatap satu persatu indahnya
karena ku pasti akan merinduinya

seperti tak ingin pergi
seperti tak ingin menjauh
bahkan merasa takut jika harus pergi dengan cepat

tapi semuanya pasti akan berakhir
tak ada yang abadi
jalan di depan insyaAlloh akan indah
selama Dia ada dalam hati kita

Tuesday, 28 June 2011

dek Husna nya ceu Wafa

Alhamdulillah, engkau lahir dengan selamat Husna sayang..
Ummi, Abah dan ceu Wafa begituuu bahagia :)

Maaf ya Husna sayang, Ummi tidak sempat mencatat dengan rapih perkembanganmu ketika dalam rahim Ummi. Deuuuh si tesis menyita perhatian Ummi lebih banyak..

Begitupun dengan proses kelahiran, Ummi copy paste kan saja ya dari tulisan Ummi di Group ITB Motherhood

Setelah Wafa disapih yang bertepatan dengan  akhir masa studi saya, saya dinyatakan positif hamil. Di kehamilan yang kedua ini saya melakukan cek kehamilan di klinik kampus lagi. Namun ternyata system pemeriksaan di klinik kampus sudah berbeda. Setelah dinyatakan positif hamil, pemeriksaan kehamilan baru diperbolehkan pada minggu ke 14, sementara di kehamilan pertama saya langsung diminta periksa di bulan berikutnya.

 

Rencana awal, saya ingin terus periksa kehamilan di klinik kampus, selain hemat juga lengkap. Namun karena ada flek maka saya periksa ke DSOG di klinik swasta. Menurut sang Dokter flek itu karena letak plasentanya yang tak pas, saya lupa tepatnya.  Karena letak plasentanya harus senantiasa ditinjau, maka saya terus periksa di klinik swasta tersebut, saya hanya sempat periksa di klinik kampus dua kali saja. Tentu saja biayanya lebih mahal, selain itu hasil Lab pun tidak bisa diketahui langsung karena mereka mengirimkan sample ke Lab lain. Jadi di buku pemeriksaan kehamilannya tidak tertulis data lengkap kondisi kesehatan dan kandungan kita. Hanya diberikan buku kecil untuk janji bulan depan dan juga hasil scan USG bila dilakukan peng-scan-an.

 

Sejujurnya saya tidak terlalu puas dengan DSOG ini. Saya merasa tidak bebas bertanya – tanya. Selain itu juga DSOGnya laki-laki membuat saya sangat tidak nyaman.  Tapi karena tidak ada lagi klinik DSOG yang dekat, adanya di Hospital pakar yang lebih jauh dan biaya lebih mahal, maka saya tidak punya pilihan lain.     

 

Tibalah minggu – minggu mendekati masa kelahiran. Ketika usia kehamilan sekitar 36 minggu, hasil scan menunjukan berat bayi sudah 2.4 kg. Dokter menyampaikan jika menunggu sampai HPL, maka berat bayi akan mencapai 3.5 kg.  Dengan berat 3.5 kg, maka ada kemungkinan operasi jika posisi bayi tidak bagus. Namun jika berat bayi tidak terlalu besar maka posisis yang tidak pas itu bisa diusahakakan agar pas. Karena itulah Dokter menyarankan agar kelahirannya direncanakan sebelum HPL. Jadi, dalam jangka 10 hari kedepan setelah cek up, akan diperiksa kondisi rahim. Apakah sudah ada pembukaan atau belum. Jika sudah ada maka  proses kelahiran akan dicadangkan dalam 2 atau 3 hari berikutnya. Proses untuk mempercepat kelahirannya dinamakan augmentasi, CMIIW ya teman-teman. Saya pun belum sempat searching tentang augmentasi ini.

Dokter juga menyarankan epidural. Sejujurnya saya tidak terlalu nyaman dengan epidural, namun suami menyarankan untuk menggunakan epidural. Dia tidak ingin saya kelelahan menahan sakit karena kontraksi yang menyebabkan saya tidak mempunyai tenaga ketika melahirkan, seperti ketika melahirkan Wafa dulu.

Ketika saya periksa 10 hari kemudian, ternyata belum ada bukaan. Saya pun diminta datang seminggu lagi, namun ketika periksa seminggu kemudian masih belum ada bukaan, Dokter meminta saya datang kembali seminggu lagi. Saya pun bersyukur adek bayi belum mau lahir karena masih harus menyelesaikan thesis saya.

Setelah diperiksa yang terakhir ituternyata sudah ada bercak darah. Namun mengingat kelahiran Wafa dulu, saya masih tenang saja karena belum ada kontraksi. Kontraksi baru terasa hari Selasa malam, 5 hari setelah keluar darah. Kemudian besoknya ketika saya bersama Ibu saya jalan-jalan kontraksi makin terasa kuat. Pada hari Rabu malam itu saya telepon perawat di klinik tempat saya periksa, perawatnya meminta saya datang esok harinya saja sesuai dengan waktu yang sudah dijanjikan.

Hari kamis pagi saya berangkat ke klinik dengan membawa tas, jaga-jaga jika memang harus melahirkan hari itu. Karena kontraksi sudah terasa kuat meskpiun timbul tenggelam, persis seperti kehamilan pertama. Ketika periksa dengan dokter, katanya sudah ada bukaan, boleh melahirkan dalam minggu ini. Saya diminta ke resepsionis membuat janji untuk melahirkan. Hari kamis itu H-3 dari HPL. Sebetulnya saya ingin jadwal melahirkannya besok, namun karena sudah ada pasien lain di hari jum’at maka saya meminta hari Sabtunya saja, H-1 dari HPL.

Perawat pun bertanya, apakah saya ingin epidural atau tidak. Dalam hati inginnya tidak, tapi suami lebih merasa nyaman jika saya mengambil epidural. Akhirnya saya putuskan iya saja dulu. Kata perawatnya masih boleh difikirkan, nanti jum’at malam ditelepon lagi untuk kepastiannya.

 Hari jum’at saya merasakan kontraksi yang kuat dengan interval yang masih sama seperti sebelumnya. Naik turun tak menentu. Jum’at malam saya ditelepon untuk memastikan apakah saya jadi  melahirkan di klinik tersebut. Serta kepastian tentang epidural.Dengan segala pertimbangan, akhirnya epidural jadi diambil. Setelah ada kepastian, perawat yang menelepon meminta saya datang ke klinik tersebut pukul 7 pagi.

Esoknya pukul 7.30 saya baru sampai di klinik. Perawat sempat khawatir dan terus menelepon saya. Sesampainya disana, saya diminta segera mengganti baju. Lalu perawat memasukan obat dari belakang agar saya BAB. Setelah itu kondisi bayi di dalam perut diperiksa. Tak lama dokter bius datang memberikan suntik epidural. Hmmh lumayan sakit juga.

Tapi ooo tapi, ternyata suntik epidural ini tidak terlalu terasa manfaatnya oleh saya. Rasa sakit luar biasa masih terasa. Melihat saya yang tetap kesakitan, perawatnya pun keheranan. Akhirnya perawat mengecek bukaan, ternyata sudah bukaan 7. Dia berkata dalam hitungan menit bayi akan keluar. Makanya si epidural tidak terlalu berpengaruh

Alhamdulillah, dengan penuh perjuangan dan juga diomelin karena gak pandai ngeden padahal udah anak kedua, bayi Husna pun lahir dengan selamat pada pukul 10.21 am. Setelah lahir, Husna saya pegang sebentar, namun disini tidak ada IMD . Husna langsung dibersihkan, sementara saya juga langsung dijahit. Alhamdulillah jahitan yang sekarang tidak terasa seperti ketika melahirkan yang pertama.

 

Setalah dijahit, saya dibawa ke kamar untuk beristirahat. Baru sekitar jam 12an Husna dibawa ke kamar untuk  saya susui. Perawat yang membawa Husna bertanya apakah saya mau full ASI atau campur. Dengan keyakinan, saya menjawab insyaAlloh full ASI.

Di klinik ini saya harus menginap semalam. Meskipun saya di kamar sendiri, tapi tidak boleh ada yang menginap. Yang menunggui hanya sampai jam 10 malam, setelah itu pulang. Namun saya tidak terlalu khawatir walaupun ditinggal, karena ada perawat yang akan siap membantu saya jika saya memerlukan apa – apa

Satu catatan lagi untuk klinik ini, beberapa kali perawatnya menyarankan agar ASI saya dicampur denga susu formula. Tapi saya tetap keukeuh. Bahkan ketika Husna belum pipis juga, si perawat ‘mengancam’ jika sampai besok pagi tidak pipis artinya ASInya kurang, maka dia akan tambahkan susu formula. Saya pun menjawab, “InsyaAlloh besok Husna kencing.” Alhamdulillah, ketika perawat memandikan Husna, ternyata Husna pipis J, selamatlah Husna dari penambahan susu formula.


Tuesday, 7 June 2011

Ramadhan 2007

Ramadhan 2007, ramadhan yang tidak terlupakan dalam hidupku. Ramadhan pertama sebagai istri, ramadhan pertama jauh dari keluarga, dan ramadhan pertama menjejakan kaki di negri jiran.
Masih terekam jelas dalam ingatan, pagi yang cerah di Ramadhan hari ketiga. Mamah, Apa dan Kakak-kakaku semuanya lengkap mengantarkan ke Bandara, mengikuti suamiku belajar di negri tetangga.  
Jika ingat hari itu, rasanya tak percaya aku mampu menjadi istri yang mandiri. Pergi ke negri antah berantah, temmpat yang belum pernah dikunjungi, bersama suami yang masih memakai tongkat karena kecelakaan yang dialaminya tiga bulan sebelumnya. Dengan dua tas ransel yang ku cangklokan di punggung dan juga di dada, seperti ibu hamil yang membawa tas gendong. Ditambah dengan dua koper yang disimpan di bagasi. Perjalanan yang tidak mudah, karena saat itu tidak ada pesawat yang langsung sampai  Johor. Ada dua alternative yang bisa kami pilih, naik pesawat sampai Kuala Lumpur lalu melanjutkan dengan Bis ke Johor. Pilihan  lainnya kami terbang sampai Batam, lalu melanjutkan dengan Feri ke pelabuhan situlang laut, Johor. Suamiku memilih pilihan kedua, karena kakinya belum sanggup untuk naik turun Bis dengan tongkat, ditambah dengan beban tas yang harus kubawa. Tak terbayang seperti apa. Sementara jika lewat Batam, ada kawan yang menjemput kami di Bandara dan mengantarkan kami ke Pelabuhan. Pilihan yang tampaknya lebih mudah.
Tibalah saatnya kami meninggalkan Paris Van Java menuju Negri darul Takzim. Meski kucoba menahan, namun buliran air mata ini mengalir pelan dari pelupuk mataku. Terpisah jarak dengan keluargaku bukanlah hal yang asing bagiku. Semenjak remaja aku telah merantau ke kota untuk sekolah. Namun kini, terpisah jarak yang tak mungkin ditempuh dengan jalan darat, dalam jangka waktu yang tak sebentar. Menghabiskan Ramadhaan jauh dari orang – orang tercinta.
Pesawat yang membawa kami menuju Batam, terbang meninggalkan langit Bandung dengan mudahnya. Menghilangkan sejenak kekhawatiranku akan perjalanan yang nanti akan kuhadapi. Sesampainya di Batam, seorang kawan telah menunggu kami. Kawan yang belum pernah berjumpa sebelumnya, hanya berbekal sebuah prasangka baik diantara kami.
Subhanallah, meskipun baru berjumpa, beliau sangat membantu kami selama proses transit di Batam ini. Perjalanan jadi terasa ringan.
Tibalah saatnya kami menaiki kapal Ferri cepat. Ukurannya kecil, namun berlayar dengan kecepatan tinggi.  Membuat goncangannya terasa sangat kuat. Apalagi kami pergi menjelang petang, dimana ombak laut terasa lebih kuat. Jujur, rasa takut menyergap hatiku, kugenggam erat tangan suamiku, sembari hati ini senantiasa berdzikir mengingatnNya. Beruntunglah kami karena diperjalanan itu kami bertemu dengan seorang Ibu cantik yang juga berasal dari Bandung. Beliau bekerja sebagai dosen disebuah kolej di kota Tinggi, Johor. Sehingga kuhabiskan waktu berbincang dengannya, mencoba melupakan buaian ombak yang membuat jantungku berdegap lebih cepat.
Lembayung senja menyambut kedatangan kami di negri Johor. Alhamdulillah, kami sudah ditunggu oleh dua orang teman suami, mereka sengaja menjemput kami. Aah senangnya.
Kereta yang kami tumpangi perlahan meninggalkan pelabuhan Situlang laut. Aroma udara yang hangat mengingatkanku pada tanah airku. Ya negri tetangga ini tak jauh berbeda dengan negriku, serasa belum menginjak luar negri.
Hingga ketika suamiku bertanya, “Dek, kita sudah sampai di luar negri lho!”
Akupun hanya tersenyum simpul, dalam hatiku berkata, aaah rasanya sama dengan di negri sendiri.
Tak berapa lama kereta* melaju, adzan maghrib sayup terdengar. Ya, sayup saja, berbeda dengan saat berbuka di negri tercinta, dimana suara muadzin terdengar bersahutan dari semua penjuru. Aku masih ingat, saat itu kami membatalkan diri dengan sebuah permen. Namun tak lama kami singgah di Danga Bay, sebuah tempat wisata, untuk menyempurnakan berbuka kami hari itu sekaligus menunaikan shalat maghrib.