Showing posts with label tumbuhkembang. Show all posts
Showing posts with label tumbuhkembang. Show all posts

Tuesday, 4 June 2013

Celoteh Krucils : Wafa mau Abah

"Ummi, mau sama Abah."
"Yaa..." Si Ummi jawab gak semangat gini, sudah biasa soalnya denger kalimat ini
"Ummi kangen sama Abah juga kan?"
*Blushing....
"Abah udah lama gak cuti." Ucap si sulung dengan muka sedih.
*Ettss.. lama gak cuti? Tuing.. tuing si Umminya.
"Kemaren kan Wafa jalan-jalan sama Abah ke Jusco." SI Ummi mengingatkan.
"E.. iyah.. ." Uvap mulut mungilnya.
"Nanti Ceuceu gak ganggu lagi Abah kerja. Abah kerja di rumah. Nanti kerjaan Abah beres, trus pulang ke Indonesia.. Yeaaaaa." Wajah nya berubah ceria dan bahagia.
"Aamiin.. Allahuma Aamiin." Hanya itu yg terucap dari mulut Ummi.
Semoga jadi penyemangat ut Abah yaa...
...

Episode lanjutannya...
"Ummi kalau dedek bayi sudah lahir. Ummi gak ngepok-ngepok Ceuceu lagi kalau bobo. Nanti Ceuceu di empok-empok sama Abah.. Yeaayyyy!!!"

*Balada neng geulis yang nempel sama Abahnya.. Ditinggal sampai malam saja sudah merindu begini.. PAdahal sepagian sebelum Abah berangkat, ini anak nguwel nguwel Abah saja...
feeling loved.

Wednesday, 1 February 2012

WS:: Kalau Ummi Marah

Lampu kamar sudah dimatikan, menandakan waktu tidur tiba. Si sulung Wafa masih ketawa-ketawa. Adiknya ikutan tertawa. Duuuh si Ummi mulai stress. Daripada stres, mendingan ikut ketawa.
Ketika asyik bermain si ceuceu mendekat, "Hoyong ngeukeupan Ummi!"
Ummi pun pura-pura gak mau, "Aliiim dikeukeupan."
Wafa memaksa, Ummi pun membentangkan tangannya. Alhamdulillah, masih diberikan kenikmatan memeluk putri tercinta.
Tubuh mungil itu mendekap tubuh Ummi, erat. Bibir kecilnya berkata, "Sayaaaang Ummi."
"Ummi sayaaang Ceuceu" ucapnya melanjutkan.
"Wafa tau gitu kalau Ummi sayang Ceuceu?" tanyaku menyelidik.
"Iya." jawabnya, mantap.
"Kalau Ummi lagi marah, Ummi sayang gak sama Wafa?"
"Sayang." Ucapnya polos. Membuat hatiku meleleh.
"Trus kenapa Ummi marah sama Wafa?"
"Soalnya Wafanya nangis, trus Wafanya teu terangkeun Ummi" Aiiih si Ummi makin terharu.


Maafkan Ummi ya Nak, sering marah padamu. Hati mu yang bersih senantiasa mau memaafkan.
Ummi jadi malu, Nak...


Keterangan
Keseluruhan percakapan berlangsung dalam bahasa sunda
*ngeukeupan = meluk
*teu terangkeun = tidak tahu. Maksudnya Wafa gak dengerin Ummi dan gak nurut sama Ummi

Wednesday, 14 December 2011

WS: Hafalan Wafa

Dari semenjak dalam kandungan, saya sering menyetel murattal untuk Wafa
Ketika bertemu dengannya di dunia, saya pun sering melantukan beberapa surat pendek yang saya hapal. Apalagi ketika belum ada khadimat, dan saya mengerjakan riset S2 di rumah. Maka sambil menyusui Wafa, saya sering menghapal beberapa surat pendek. *dooooh masih surat pendek niyy
Selain itu, setiap akan tidur saya rutin ngelonin Wafa dengan membaca surat-surat yang biasa dibaca di awal Al-Ma'tsurat sughra.
Ketika ada khadimat, kebiasaan menghapal sambil ngelonin pun tidak pernah dilakukan lagi. Karena setiap hari saya harus berangkat ke kampus. Tapi ritual membaca awal Al-Ma'tsurat sughra sebelum tidur, masih sering dilakukan.
Sampai usia 2 tahunan, Wafa belum pernah 'menyuarakan' salah satu surat pendek yang sering saya baca di hadapannya.
Ketika akhirnya khadimat pulang, Wafa pun dititipkan di Nursery. DI sana memang ada ritual membaca Al-Fatihah, An-Naas, Al-Falaq dan Al-Ikhlas sebelum tidur. Belum genap satu tahun di tempat penitipan, alhamdulillah Wafa sudah hafal ke empat surat itu. Pertama taunya dari celotehan Wafa yang terkadang menyuarakan penggalan ayat-ayatnya. Lalu saya pun coba mengetes satu-satu, dan alhamdulillah Wafa hapal, meski ada beberapa bagian yang salah dalam pengucapannya.

Nah, masalah selanjutnya, bagaimana menambah hapalannya?
Saya lalu berkonsultasi dengan seorang ustadzah, teman baik saya. Putri beliau yang usianya 4 tahun kala itu, sudah hapal sampai An-Naba.
Katanya di ulang-ulang bacanya.
Saya masih bingung, karena Wafa anaknya gak bisa diam . Dan sering menginterupsi dengan berbagai pertanyaan ketika saya aberbicara

Jadilah saya maju .. mundur untuk menambah hapalan Wafa.
*hihihi dasar si Ummi gak sabaran

Hingga tiba saatnya, sahabat baik saya Mbak Nurul Asmayani memposting pertanyaan tentang hal ini di FB nya...
*duuuh ngaku ngaku bersahabat dengan penulis kerren , gpp ya Mbak Nurul saya minta di aku jadi sahabatnya

Dari jawaban-jawaban ibu-ibu yang shalihah itulah saya akhirnya mendapatkan kekuatan dan ide
Ditambah juga dengan membaca beberapa tulisan tentang cara mengajarkan hapalan pada anak, serta disesuaikan juga dengan karakter si sulung, Wafa.
Akhirnya saya menemukan metode 'cuek bebek' untuk mengajarkan surat Al-Lahab pada Wafa... :)
Maksudnyaaaaaaaaaaaaa????
1. Saya cuek bebek mentalaqi surat Al-Lahab, kapan pun dimanapun ketika saya ingat. Mau Wafa nya lari-lari, lagi maen, lagi masak bareng, lagi jungkir balik, bahkan mau tidur. Pokonya pas saya inget, saya baca surat itu berkali-kali. Seperti Murattal namun bersuara pas-pasan
2. Terkadang Wafa mempunyai keinginan yang beda sama Umminya, jadi saya juga gak terlalu memaksa Wafa untuk melafalkan setiap ayat bersama dengan saya. Saya cuek bebek terus mengajak Wafa untuk baca surat tersebut barengan, meskipun terkadang Wafa diam membisu, gak mau ikutan. Tapi yaa saya tetap 'cuek bebek' baca di hadapannya 
3. Wafa juga sangaaaaaaaaat pemalu, maksunya, dia mah gak bisa disuruh untuk nunjukin kebisaannya di depan umum. Jadilah saya Ummi yang cuek bebek, tidak berharap Wafa mau ikut lomba hapalan suatu saat nanti. Yang penting bisa hapal dan mau baca depan Ummi dan Abahnya saja, saya sudah bersyukur ..
4. Nah yang terakhir ini, saya gak cuek bebek. Saya berjanji menghadiahinya es krim, jika dia sudah hapal surat Al-Lahab . Cara ini saya ikuti dari cerita seorang ibu yang anak-anaknya menjadi Hafidz. Anak-anaknya yang berhasil menambah hapalan diberikan keistimewaan untuk memilih menu makan dan tempat untuk berlibur. Berhubung saya gak jago masak, dan juga susah ngajakin berlibur, maka es krim lah solusinya. Dan ketika ditanya sama Wafa,
"Ceu, nanti kalau sudah hapal surat Al-Lahab, Ummi belikan banana split ya!" bujukku pada si kecil.
"Mau es krim, banana plit, susu...." ia mulai menyebut makanan kesukaannya.
"Iih jangan banyak-banyak ya, satu saja!" protesku, cepat-cepat. "Mau es krim atau banana split."
"Es klim," ucapnya lantang. "Es klim sama Astor!" tambahnya, riang.
"Eleeeeuuuh eta mah atuh maksudnya banana split geulisss..." ucapku dalam hati

Alhamdulillah, sekarang sudah hapal surat Al-Lahab, meski beberapa bagian masih belum sempurna pelapalannya. Yang membuat terharu, dia sering melapalkannya tiba-tiba ketika main. Spontan saja kluar dari bibirnya yang mungil.

Dan malam ini sebelum tidur, kami berbincang,
"Ceu baca surat Al-Lahab yuk!" ajakku pada si mungil. Wafa tak menjawab, ia sibuk dengan perahu kertasnya.
"Besok kalau Abah datang, Ceuceu baca surat itu di hadapan Abah. Nanti kalau sudah hapal, Ceuceu ajak Abah beli banana split." Ku coba membujuk si sulung yang lagi rindu berat dengan Abahnya. Maklum sudah mau 4 hari ditinggal ke Sremban.
"Es klim laaah!" ucapnya protes.
"Iya es krim, yuk baca!" ajakku sekali lagi. Wafa masih membisu. Namun ketika saya membacakan surat itu, Wafa ikut bersuara. Namun kadang ketika saya mengulang lagi membacanya, Wafa hanya ikutan komat-kamit, tanpa suara. Dan saya cuek bebek saja, mengulang-ulang surat Al-Lahab sampai beberapa kali.

Alhamdulillah, satu surat berhasil. Baru 5 surat yang dihapalnya, Masih 109 surat lagi.
"Jom Wafa berlomba-lomba sama Ummi!"

"Semangaaaaaaaaaaaaatttt!!!!"

Oia untuk do'a-do'a, kami selalu membacanya ketika akan melakukan suatu pekerjaan. Alhamdulillah Wafa sudah banyak hapal bacaan do'a. Namun kadang mau diucapkan, kadang diam

Kalau sholat, Wafa suka ikut satu sajadah sama Ummi. Tapi kadang mau pake mukena kadang nggak. Jadi bayangkan, Wafa sholat pake celana pendek!
Ah, si Ummi mah nyantei saja. Yang penting Wafa mau ikutan ya Neng!
Oia alhamdulillah, kalau terdengar adzan, Wafa juga suka mengingatkan Umminya untuk sholat. Dan sering mau jagain adeknya selama Umminya shalat...

Yang terakhir tentang membaca huruf Hijaiyah. Saya baca beberapa tulisan temen yang mengajarkan anaknya membaca huruf hijaiyah dari usia 3T. Maka tergodalah saya untuk mengajari Wafa juga, walaupun untuk urusan membaca ini saya tidak terlalu 'ngebet'. Katanya usia 3T bukan saatnya untuk membaca. Tapi, yaa patut di coba. Akhirnya pas Abahnya pulang, saya nitip buku IQRO 1 dan 2. Alhamdulillah selain buku IQRO, Abahnya ngasi oleh-oleh buku membaca huruf hijaiyah yang ada gambarnya.
Awalnya ketika diajakin belajar, Wafa malah melakukan 'sabotase'. Dia ambil bukunya dan bernyanyi,
"Alif atas A, ba atas A,....," menirukan sebuah lagu belajar huruf hijaiyah anak-anak di Malaysia.
Terus seperti itu, sampai si Umminya nyerah. Udah d nanti saja ngajarinnya, toh memang belum saatnya.
Tapi saya sering tilawah depan Wafa, dan Wafa sering merecoki dengan mengambil mushaf, lalu tanya-tanya, "Mana An-Nas Mi?" atau dia nunjuk salah satu bagian surat, "Baca ini Mi!"
Agar tilawahnya damai sentosa, saya pun memberikan satu buah juz ama untuknya, dan bilanhg bahwa ini punya Wafa. Jadi pas saya tilawah Wafa sibuk dengan juz ama-nya. Walau kadang tetap saja ada interupsi
Hingga pada suatu pagi, Wafa ikut bangun ketika adzan subuh berkumandang. Saat Ummi tilawah, Wafa mengambil buku pelajaran membaca huruf hijaiyahnya. Lalu kami pun belajar membaca huruf hijaiyah.
Alhamdulillah sekarang sudah tau Alif atas A, Alif bawah I, ALif curek U. Saya ngajarinnya sambil diperagain dengan tangan.
Saya masih nunggu wafa untuk mau belajar huruf selanjutnya
Memang Wafa mah gak bisa dipaksa, harus diikutin maunya. Saya, dan Abahnya hanya bisa mencontohkan.

Semoga putri Ummi menjadi muslimah shalihah ya Nak.
aamiin








Foto diambil ketika Wafa 'khusyu' shalat. Gambar sebelah kiri, dia gak nyadar kalau di foto. Sebelah kanan sudah nyadar, buru-buru deh shalatnya

Tuesday, 18 October 2011

Wafa :: Toilet Training

Pfuiiih... 
Perjuangan toilet training Wafa ini menguras waktu, tenaga dan emosi..
Cieeh.. gayaa ...

Seperti sudah dituliskan dalam beberapa jurnal sebelumnya, Wafa sudah pandai pup di kamar mandi sebelum usia dua tahun. Namun untuk bagian pipisnya ini yang makan waktuuuu lama.
Alhamdulillah, di usianya yang ke-3 tahun, Wafa lulus toilet training-nya. Bahkan pas tidur pun tidak ngompol 

Bagaimana ceritanya?

Heemmh.. nampaknya karakter anak mempengaruhi ya?

Kalo melihat jejak perkembangan Wafa, dia memang anak yang agak lamaaa dalam meraih sesuatu. Bukan karena gak bisa, tapi belum 'mau'.

Wafa baru mau guling umur 5 bulan. Tapi usia 6 bulan langsung bisa merangkak dan duduk tanpa bantuan.

Wafa baru mau jalan umur 1 tahun 2 bulan. Tapi gak pake jalan selangkah selangkah. Gak pake cerita jatuh bangun, kejedut dll. Wafa langsung berjalan dengan lancar. Nampaknya Wafa sudah mampu berjalan sejak lama, namun dia takut. Dan keberanian itu baru ada karena terpaksa. Disaat dia ingin meraih sesuatu dan tak ada yang dapat membantunya, maka Wafa pun berjalan. 
Ketika masa 'training', Wafa mau ditatih jalan, tapi setiap kali dilepas pasti langsung duduk. Meskipun kami berdiri dekat Wafa untuk membantunya, namun dia memilih duduk kembali dibandingkan melangkah maju 

Nah pas toilet training pun begitu. Maju mundur kemampuan Wafa. 
Ketika bicaranya masih belum terlalu lancar, Wafa sering diajak ke WC. Namun jadwalnya tidak pernah tetap. Ketika diajak ke WC satu jam sekali, kadang pipis kadang nggak. Sering juga dalam 5 menit setelah diajak ke WC dia pipis 

Ketika sudah pandai bicara, dia juga moody. Kadang mau ngomong kalo pengen pipis kadang nggak. Apalagi kalau asyik main, khusyu nonton tipi, atau sedang bertamu. Sering dia nggak mau bilang kalo kebelet pipis. 

Si Ummi cari ide, putar otak. Eh otak gak bisa diputar ya? 
Hmmh harus ada sesuatu yang memacu Wafa agar selalu bilang kalo pengen pipis. 

Naaah, Ting!!! Ada Ide!! 

Suatu malam ketika hendak silaturahim ke rumah Uwa-nya, si Ummi bilang gini ke Wafa,
"Ceu kalo mau pipis bilang ya! Kalo ceuceu gak ngompol (bahasa kami untuk pipis sembarangan), nanti besok Ummi belikan ice cream."
Gadis mungil itupun mengangguk tanda setuju.

Alhamdulillah semalaman itu gak ngompol. Ice cream pun berhasil didapatnya.
Untuk tidur malam pun, saya bilang, "Wafa kalo mau pipis, bangun ya!"
Dan setiap dia berhasil bangun, kami berikan pujian berlimpah 

Setelah itu, masih ada bocor dua kali. Salah satunya (mungkin) karena makan jambu air .
Dan malam hari juga pernah ngompol sekali.  Selain itu, Wafa selalu bangun kalo mau pipis. Kalau sekarang malah baru pipis pas bangun di pagi hari.

Setiap kali bocor itu, kami langsung mengingatkan Wafa, kalo selama ini dia sudah pandai, kalo pengen pipis selalu bilang. Kalau lagi tidur, Wafa juga pandai bangun.

Alhamdulillah setelah itu Wafa tidak pernah ngompol lagi, dan bilang setiap kali mau pipis.

Semoga di sekolah pun nanti mau bilang ya shalihah :)
Aamiin  

*perjuangaaaaaaan ^^

Friday, 14 October 2011

W:: Tanggung Jawab

Ketika Husna lahir, saya sering mendapatkan pertanyaan,
"Bagaimana, Ceu Wafa cemburu gak?"

Dengan keyakinan kuat saya berkata, "Alhamdulillah tidak cemburu, Wafa baik sama adeknya. Cuma kadang karena gerak motorik halusnya belum sempurna, jadi sering menunjukan rasa sayangnya ke Husna dengan cara yang tidak biasa."

Tentu saja, jawaban itu sebenarnya untuk membentuk paradigma positif dari diri saya terhadap si sulung Wafa. Juga sebuah do'a. Bukankah ucapan ibu itu do'a?

Namun bertambah hari ternyata kesabaran saya juga teruji. Wafa juga menampakan kecemburuannya. Terkadang dia iseng sama adeknya. Bahkan sering melakukan sesuatu yang sepertinya ingin menguji kesabaran Umminya 

Daaan...
Saya bukanlah orang yang sempurna. Seringkali kesabaran saya berada pada titik terburuk. Meledak Marah!!! 

Alhamdulillah, Alloh mendidik kami dengan skenarioNya.

Tibalah saat dimana kami ditinggal bertiga, Ummi, Wafa dan Husna. Abahnya Wafa harus pulang ke Indonesia untuk suatu urusan.

Hari-hari pertama banyak dilewati dengan tangisan dan emosi. Apalagi saya waktu itu diuji dengan flu beraaatttzzzz . Jadilah keadaan rumah kacau balau.

Alhamdulillah, ketika akhirnya flunya membaik, emosi ikut turun, dan otak pun ikut berpikir dengan jernih.

Selama ini, Wafa senang sekali jika diminta membantu saya menyiapkan pakaian adiknya, menyiapkan disposable diapers adeknya. Bahkan dengan senang hati membawakan baju dari kamar setrikaan. Mengambilkan minum, atau bahkan mencarikan hape saya yang berbunyi. 

"Tiing!" sebuah ide muncul.

Sebagai seorang Kakak, Wafa senang diberi kepercayaan. Apalagi seringkali Wafa mampu mengajak adeknya bermain, bahkan sampai adeknya ikutan tertawa terbahak-bahak. 

Baiklah, dengan menguatkan kepercayaan, dan menitipkan jiwa kecil itu pada Rabbnya, Wafa saya beri tugas untuk menjaga adiknya.

Alhamdulillah, dengan kalimat, "Wafa jaga adek ya!" Wafa jadi lebih bertanggung jawab pada adeknya. Menjaganya, mengajaknya main sehingga lupa untuk berbuat iseng. Keuntungan lainnya, saya jadi bisa masak, dan membereskan pekerjaan rumah lainnya.

Tapi tentu saja, mereka tidak boleh ditinggal terlalu lama. Walau bagaimanapun Wafa masih kecil. Banyak hal yang berbahaya yang dia lakukan, dan tidak disadarinya. Jadi tetep saya harus bolak-balik ngecek keadaan. 

Apakah keisengan Wafa hilang, cemburunya lenyap?
Oo tentu tidak. Wafa masih sering iseng, kerap menguji coba kesabaran Umminya, dan tak lupa cemburunya juga kadang muncul. Tapi tentu saja intensitasnya berkurang. Selain itu, dengan pemberian tanggung jawab ini, Wafa belajar untuk menjaga adeknya. 


shalihah.. rukun-rukun selalu ya sayang ..:)

LuV

Thursday, 13 October 2011

FL :: Wafa Masak- Ngupas endog (Telur)




AKhirnya bisa mengabadikan Wafa sedang memasak.
Dulu mah boro-boro di foto, kalo ketauan bawa kamera langsung pengen megang. Yang ada masakanya gak jadi d!

Sekarang mah Wafa mulai hobi difoto. Mkanya, pasa dibilang,"Ceu foto ya!"
"Iya!" jawab si Ceuceu riang.

Tuesday, 11 October 2011

Wafa :: Orang Indonesia

Dari sejak masih dalam kandungan, Wafa sudah saya ajarkan berbicara bahasa Sunda. Alasannya mengenalkan budaya, memberikan rasa, membentuk pribadinya.

Setelah pandai berbicara, Wafa alhamdulillah tidak mengalami kesulitan berbicara. Dia mampu berbicara Sunda dan Indonesia, sesukanya, sebisanya. Saya pun tidak terlalu mempermasalahkan ketika dia menjawab pertanyaan saya dengan bahasa Indonesia, meskipun saya bertanya dalam bahasa sunda.

Gaya bicara campuran ini makin bertambah serunya ketika Wafa mulai masuk TasKa, atau Play Group. Karena Wafa mulai mengenal bahasa Melayu. Jadilah dia berbicara gado-gado di rumah. Kadang Sunda, Indonesia, dan Melayu.

Namun sejak beberapa minggu ini, saya mulai mengajarkan dia untuk menjawab pertanyaan saya dengan bahasa sunda. Tujuannya agar dia berani dan mampu berkata dalam bahasa Sunda, bukan hanya mengerti saja. Selain itu juga agar mampu berbahasa Indonesia yang baik, tidak tercampur -campur.

Cara saya mengajarkan Wafa untuk menjawab bahasa Sunda adalah dengan membetulkan kalimat Wafa ketika dia berbicara dengan saya. Dan juga mengenalkan bahwa kalo sama Ummi bicaranya dengan bahasa Sunda, Ummi orang Sunda 

Karena saya menyampaikan tentang orang Sunda ini, Wafa pun bertanya pada Abahnya,
"Abah orang Sunda?"
"Bukan, Abah orang Jawa," jawab Abahnya. 


Naah, tadi ketika berbincang-bincang dengan Wafa sebelum tidur, mulut kecilnya berucap,
"Ummi orang Jawa,"ujarnya dengan kalimat berita.
"Bukan, Ummi orang Sunda," ucap Ummi tanpa maksud membedakan.
Kemudian Wafa menjawab dengan polosnya, "Wafa orang Indonesia."
Good! 

Karena Wafa 'blasteran' Jawa dan Sunda, maka Wafa orang Indonesia ya Nak .. :)

hehehe alhamdulillah, putri Ummi dan Abah.. pandaaaiii ...:)


Perbedaan suku ini bukan masalah besar..
Tekad Ummi mengajarkan bahasa sunda pun agar Wafa mampu mewarisi nilai yang terkandung di dalamnya. Ada sebuah karakter yang menurut Ummi terbentuk lewat bahasa. Alasan yang lainnya agar bahasa Sunda ini lestari .. 

Kelak ketika kita pulang ke tanah jawa, kaupun harus pandai berbahasa Jawa. MAmpu berbicara dengan Mbah dan keluarga di tanah kelahiran Abahmu dengan bahasa Jawa 



Semoga senantiasa diberikan kecerdasan ya shalihah...
memberi maslahat untuk ummat...

aamiin. 

Saturday, 1 October 2011

WH :: Ketika Ummi terkapar

kemaren  sore, si Ummi terkapar di kasur karena diserang flu yang teramat berat

Ceuceu shalihah dengan lembutnya menyelimuti Ummi. Tubuh kecilnya bergerak kesana kemari merapikan selimut agar sempurna menutupi tubuh Ummi yang terbaring lemah. Setelah itu dia memijiti badan Ummi. Meskipun pijitannya terasa sangat pelan, namun ketulusan yang terpancar dari hatinya mampu meringankan rasa sakit di badan Ummi.
"Makasih Ceuceu shalihah." ujar Ummi pelan.
Wafa tak membalas ucapan terimakasih Ummi. Dia seperti tak mendengarnya, malah sibuk loncat loncat di kasur Abah. 
Tiba-tiba Wafa terjatuh di kasur karena menginjak guling yang tergeletak di tengah-tengahnya.
" Ha.. ha.. ha, Wafa jatuh Ummi," suara mungil itu tertawa, menertawakan dirinya sendiri yang terjatuh ketika melompat-lompat. Si Ummi yang merasa itu bukan kejadian lucu hanya diam saja. Namun Wafa tetap tergelak-gelak.
Dari arah yang berlawanan, terdengar bunyi tawa yang lebih mungil. Ternyata baby Husna (5m) ikutan tertawa melihat dan mendengar tawa Kakak-nya. Jadilah mereka berdua tertawa terbahak-bahak. Sambung menyambung. Wafa makin keras tertawanya setelah melihat adiknya tertawa, begitupun sebaliknya Husna.
"Ummi, ade tertawa.. ha ... ha...ha," ujar Wafa sambil menunjuk adiknya. Seperti mengerti, bayi Husna pun makin keras tertawanya.
Ummi yang tadinya menganggap kejadian itu tidak lucu, akhirnya ikut tertawa melihat dua buah hatinya tertawa dengan renyah.

Alhamdulillah, meskipun kepala terasa berat, Alloh swt senaniasa menyelipkan hiburan dalam hidup kita.

Ceuceu Wafa, adek Husna... akur selalu ya Nak ...
Jadilah cahaya mata Ummi dan Abah

Tuesday, 28 June 2011

dek Husna nya ceu Wafa

Alhamdulillah, engkau lahir dengan selamat Husna sayang..
Ummi, Abah dan ceu Wafa begituuu bahagia :)

Maaf ya Husna sayang, Ummi tidak sempat mencatat dengan rapih perkembanganmu ketika dalam rahim Ummi. Deuuuh si tesis menyita perhatian Ummi lebih banyak..

Begitupun dengan proses kelahiran, Ummi copy paste kan saja ya dari tulisan Ummi di Group ITB Motherhood

Setelah Wafa disapih yang bertepatan dengan  akhir masa studi saya, saya dinyatakan positif hamil. Di kehamilan yang kedua ini saya melakukan cek kehamilan di klinik kampus lagi. Namun ternyata system pemeriksaan di klinik kampus sudah berbeda. Setelah dinyatakan positif hamil, pemeriksaan kehamilan baru diperbolehkan pada minggu ke 14, sementara di kehamilan pertama saya langsung diminta periksa di bulan berikutnya.

 

Rencana awal, saya ingin terus periksa kehamilan di klinik kampus, selain hemat juga lengkap. Namun karena ada flek maka saya periksa ke DSOG di klinik swasta. Menurut sang Dokter flek itu karena letak plasentanya yang tak pas, saya lupa tepatnya.  Karena letak plasentanya harus senantiasa ditinjau, maka saya terus periksa di klinik swasta tersebut, saya hanya sempat periksa di klinik kampus dua kali saja. Tentu saja biayanya lebih mahal, selain itu hasil Lab pun tidak bisa diketahui langsung karena mereka mengirimkan sample ke Lab lain. Jadi di buku pemeriksaan kehamilannya tidak tertulis data lengkap kondisi kesehatan dan kandungan kita. Hanya diberikan buku kecil untuk janji bulan depan dan juga hasil scan USG bila dilakukan peng-scan-an.

 

Sejujurnya saya tidak terlalu puas dengan DSOG ini. Saya merasa tidak bebas bertanya – tanya. Selain itu juga DSOGnya laki-laki membuat saya sangat tidak nyaman.  Tapi karena tidak ada lagi klinik DSOG yang dekat, adanya di Hospital pakar yang lebih jauh dan biaya lebih mahal, maka saya tidak punya pilihan lain.     

 

Tibalah minggu – minggu mendekati masa kelahiran. Ketika usia kehamilan sekitar 36 minggu, hasil scan menunjukan berat bayi sudah 2.4 kg. Dokter menyampaikan jika menunggu sampai HPL, maka berat bayi akan mencapai 3.5 kg.  Dengan berat 3.5 kg, maka ada kemungkinan operasi jika posisi bayi tidak bagus. Namun jika berat bayi tidak terlalu besar maka posisis yang tidak pas itu bisa diusahakakan agar pas. Karena itulah Dokter menyarankan agar kelahirannya direncanakan sebelum HPL. Jadi, dalam jangka 10 hari kedepan setelah cek up, akan diperiksa kondisi rahim. Apakah sudah ada pembukaan atau belum. Jika sudah ada maka  proses kelahiran akan dicadangkan dalam 2 atau 3 hari berikutnya. Proses untuk mempercepat kelahirannya dinamakan augmentasi, CMIIW ya teman-teman. Saya pun belum sempat searching tentang augmentasi ini.

Dokter juga menyarankan epidural. Sejujurnya saya tidak terlalu nyaman dengan epidural, namun suami menyarankan untuk menggunakan epidural. Dia tidak ingin saya kelelahan menahan sakit karena kontraksi yang menyebabkan saya tidak mempunyai tenaga ketika melahirkan, seperti ketika melahirkan Wafa dulu.

Ketika saya periksa 10 hari kemudian, ternyata belum ada bukaan. Saya pun diminta datang seminggu lagi, namun ketika periksa seminggu kemudian masih belum ada bukaan, Dokter meminta saya datang kembali seminggu lagi. Saya pun bersyukur adek bayi belum mau lahir karena masih harus menyelesaikan thesis saya.

Setelah diperiksa yang terakhir ituternyata sudah ada bercak darah. Namun mengingat kelahiran Wafa dulu, saya masih tenang saja karena belum ada kontraksi. Kontraksi baru terasa hari Selasa malam, 5 hari setelah keluar darah. Kemudian besoknya ketika saya bersama Ibu saya jalan-jalan kontraksi makin terasa kuat. Pada hari Rabu malam itu saya telepon perawat di klinik tempat saya periksa, perawatnya meminta saya datang esok harinya saja sesuai dengan waktu yang sudah dijanjikan.

Hari kamis pagi saya berangkat ke klinik dengan membawa tas, jaga-jaga jika memang harus melahirkan hari itu. Karena kontraksi sudah terasa kuat meskpiun timbul tenggelam, persis seperti kehamilan pertama. Ketika periksa dengan dokter, katanya sudah ada bukaan, boleh melahirkan dalam minggu ini. Saya diminta ke resepsionis membuat janji untuk melahirkan. Hari kamis itu H-3 dari HPL. Sebetulnya saya ingin jadwal melahirkannya besok, namun karena sudah ada pasien lain di hari jum’at maka saya meminta hari Sabtunya saja, H-1 dari HPL.

Perawat pun bertanya, apakah saya ingin epidural atau tidak. Dalam hati inginnya tidak, tapi suami lebih merasa nyaman jika saya mengambil epidural. Akhirnya saya putuskan iya saja dulu. Kata perawatnya masih boleh difikirkan, nanti jum’at malam ditelepon lagi untuk kepastiannya.

 Hari jum’at saya merasakan kontraksi yang kuat dengan interval yang masih sama seperti sebelumnya. Naik turun tak menentu. Jum’at malam saya ditelepon untuk memastikan apakah saya jadi  melahirkan di klinik tersebut. Serta kepastian tentang epidural.Dengan segala pertimbangan, akhirnya epidural jadi diambil. Setelah ada kepastian, perawat yang menelepon meminta saya datang ke klinik tersebut pukul 7 pagi.

Esoknya pukul 7.30 saya baru sampai di klinik. Perawat sempat khawatir dan terus menelepon saya. Sesampainya disana, saya diminta segera mengganti baju. Lalu perawat memasukan obat dari belakang agar saya BAB. Setelah itu kondisi bayi di dalam perut diperiksa. Tak lama dokter bius datang memberikan suntik epidural. Hmmh lumayan sakit juga.

Tapi ooo tapi, ternyata suntik epidural ini tidak terlalu terasa manfaatnya oleh saya. Rasa sakit luar biasa masih terasa. Melihat saya yang tetap kesakitan, perawatnya pun keheranan. Akhirnya perawat mengecek bukaan, ternyata sudah bukaan 7. Dia berkata dalam hitungan menit bayi akan keluar. Makanya si epidural tidak terlalu berpengaruh

Alhamdulillah, dengan penuh perjuangan dan juga diomelin karena gak pandai ngeden padahal udah anak kedua, bayi Husna pun lahir dengan selamat pada pukul 10.21 am. Setelah lahir, Husna saya pegang sebentar, namun disini tidak ada IMD . Husna langsung dibersihkan, sementara saya juga langsung dijahit. Alhamdulillah jahitan yang sekarang tidak terasa seperti ketika melahirkan yang pertama.

 

Setalah dijahit, saya dibawa ke kamar untuk beristirahat. Baru sekitar jam 12an Husna dibawa ke kamar untuk  saya susui. Perawat yang membawa Husna bertanya apakah saya mau full ASI atau campur. Dengan keyakinan, saya menjawab insyaAlloh full ASI.

Di klinik ini saya harus menginap semalam. Meskipun saya di kamar sendiri, tapi tidak boleh ada yang menginap. Yang menunggui hanya sampai jam 10 malam, setelah itu pulang. Namun saya tidak terlalu khawatir walaupun ditinggal, karena ada perawat yang akan siap membantu saya jika saya memerlukan apa – apa

Satu catatan lagi untuk klinik ini, beberapa kali perawatnya menyarankan agar ASI saya dicampur denga susu formula. Tapi saya tetap keukeuh. Bahkan ketika Husna belum pipis juga, si perawat ‘mengancam’ jika sampai besok pagi tidak pipis artinya ASInya kurang, maka dia akan tambahkan susu formula. Saya pun menjawab, “InsyaAlloh besok Husna kencing.” Alhamdulillah, ketika perawat memandikan Husna, ternyata Husna pipis J, selamatlah Husna dari penambahan susu formula.


Thursday, 18 November 2010

Abah dan Wafa di usia 2 tahun lebih

Lapor :
Tadi pagi Wafa mandi sama Abah ..

hampir semua kegiatan sudah dijalani Wafa bareng Abah, cuma makan saja yang belum sukses...
Si Abah kurang gigih dalam menyuapi, sama kayak Uminya  ..

*persiapan menjelang Wafa punya adek, Abah harus siap dalam segala kondisi bersama Wafa

pendapat Ummi :
Untuk tipe Ayah yang tidak terbiasa mengurusi anak kecil, Ibu harus mendukung dan mengusahakan agar Ayah bisa lebih dekat dengan buah hatinya ..

LuV