Tuesday, 21 September 2010

[Xenophobia] Lelaki Asing

Menjadi ibu adalah cita-cita utama yang senantiasa bertengger dengan manis dalam benakku sedari kecil, meskipun cita-cita sampingan lainnya selalu datang dan pergi. Hingga si Rela kecil inipun mempunyai keinginan untuk menikah muda. Ya, menikah muda  . Salah satunya karena berharap bisa menjadi ibu lebih cepat dan juga agar perbedaan usiaku dengan putera-puteriku nanti tidak terlalu jauh.

Usia beranjak, dan cerita tentang kehidupan nyata dalam sebuah pernikahanpun kuketahui. Ada yang langsung bercerita padaku ataupun mereka menceritakan tentang masalah orang lain. Terkadang, ada beberapa cerita yang tak sengaja kudengar. Maklum, mereka menganggapku anak kecil yang tidak akan sebegitu perhatian terhadap obrolan mereka, tapi nyatanya entah kenapa kupingku selalu menangkap apa yang mereka bicarakan. Bukan bermaksud 'nguping' ya, tapi memang terdengar  

Dari semua cerita yang menghampiri dan memasuki pendengaranku,hampir semuanya berisi tentang masalah. Dan dari semua masalah yang terungkap, saat itu aku mendapat kesimpulan bahwa 'Laki-laki egois, mau menang sendiri, harus selalu dituruti, dan gak mau mengakui kelebihan istrinya'  

Weisssssssssss dahsyat banget ya prasangkanya. Tak bagus memang. tapi entah kenapa kesimpulan itu bertengger di kepalaku. Tak semua laki-laki tentunya, tapi sebagian besar, most of them, specially a Man form Indonesia  

Sebenarnya, bagiku tidak masalah untuk ta'at terhadap siapapun selama hal yang harus kutaati itu memang layak untuk dita'ati. Tak masalah juga kalo aku harus mengalah, asal bukan mengalah untuk sesuatu yang prinsip. Yang menjadi masalah adalah, ketika keta'atan itu harus 'saklek', tanpa penjelasan yang rasional, hanya bermodalkan kata 'Istri wajib Ta'at pada suami'. Oh noo, I am not agree . Terkecuali dalam hal yang berhubungan dengan hukum agama ya, maka kuartikan keta'atan kepada suami adalah keta'atan kepada Alloh swt

Memang (kuakui) dari kecil si rela ini tidak bisa kompromi sama anak cowok yang seenaknya, mau menang sendiri, dan semena-mena. Pasti kulawan , walaupun harus sambil menangis . Seriuuusss lho, kalo tanya sama temen SDku, aku paling sering menangis, bahkan dikatakan cengeng. Kenapa? Salah satunya karena tidak mau mengalah dan senantiasa melawan, tapi dengan diiringi air mata yang mengalir deras dari mataku hehe

Nah, prototype bahwa kebanyakan lelaki itu egois, mau menang sendiri dan susah diajak berdisukusi mulai menghantui alam sadar dan bawah sadarku. Sehingga, hal ini mempengaruhi juga keinginan untuk menikah muda itu.

Coba bayangkan ketidak sinkronan ini, ingin menikah tapi takut jika sang pasangan hidup adalah lelaki yang egois dan tidak rasional, hanya mengedepankan 'kelelakiannya' saja.

Gak nyambung kan? Bagaimana mungkin menikah, tapi takut dengan lelaki. Masa menikah dengan perempuan, Haram itu namanya

Mungkin akan timbul pernyataan ini, 'Pilihlah lelaki yang tidak egois, kenali dia baik-baik'.

Seberapa jauhkah kita bisa mengenal calon kita?

Berdasarkan hasil pengamatan, seberapa lamapun seseorang itu berkenalan atau berpacaran dengan calonnya, maka masa pacaran itu tidak bisa memberikan jaminan bahwa si calon sudah dikenal seutuhnya. Banyak hal -hal yang tidak terduga yang baru diketahui pasangannya setelah menikah.Begitupun dengan orang-orang yang menceritakan atau terdengar masalahnya ditelingaku, mereka mengalami masa pacaran dahulu sebelum menikah. Jadi pacaran atau tidak, lama atau tidak, bukan jaminan kita mengenal baik pasangan kita.

Selain itu, ketika saatnya usiaku memasuki tahap pantas menikah, alhamdulillah Alloh memberikan pemahaman, bahwa pengenalan pada suami yang intensif adalah setelah akad terucap. Dalam pemahamanku, bahwa islam tidak mengenal pacaran sebelum menikah.

Kefahaman tentang tidak adanya pacaran itu juga makin menguatkan keinginanku untuk menikah muda. Karena jujur, sebagai manusia biasa sering terlintas 'iri' dalam benakku ketika melihat seseorang berpacaran. Iri karena ingin juga bisa berjalan bersama dengan seseorang, bergandengan tangan, menceritakan kisah hari-harinya kepada pasangannya, namun tentu saja dengan seseorang yang sudah halal di hadapan Alloh swt.

Namun sekali lagi, ketakutan tentang lelaki asing, seseorang nan egois masih bertengger setia dalam benaku. Jadi, meskipun keinginan menikah itu ada, namun tidak pernah terungkap, tidak pernah diusahakan, dan tidak terealisasi tentu saja. Karena diriku masih takut akan sosok lelaki asing nan egois.

Hingga ketika ada lelaki yang baik berniat baik terhadapku, wajahku memucat, berkerut dan hari-hariku menjadi muram. Ya muram, sahabatku tau tentang itu. Muram karena aku merasa bingung. Dia lelaki yang baik, tidak ada alasan untuk berkata tidak, namun hatiku dihinggapi rasa tak tenang yang begitu dalam. Hingga sahabatkupun berkata,
"Pasangan itu seperti puzzle, yang akan saling mengisi satu sama lain. Tak mestilah puzzle yang pas dengan puzzle kita itu adalah puzzle yang paling bagus"
Begitulah, akhir yang bisa ditebak.

Lama waktu berselang, aku menyadari bahwa keputusaanku saat itu karena aku masih menyimpan ketakutan akan sosok laki-laki asing nan egois. Memang tidak ada yang salah dengan dirinya, hanya diriku memang belum siap kala itu, belum siap secara psikologis menerima seorang yang asing dalam hidupku.

Keputusan yang tidak pernah kusesali, karena kuyakin Alloh pastilah mempunyai rencana yang indah untukku, Dia mengajariku dengan kehidupan dan pengalaman. Hingga akhirnya aku siap, nanti.

Mengenali diri sendiri, itulah kurasa salah satu kunci untuk menyelesaikan berbagai pertanyaan hidup. Begitupun untuk mengatasi ketakutanku akan sosok Lelaki asing, sang qowam dalam hidupku. Aku takut jika aku harus menta’ati sesuatu yang tidak sesuai dengan hatiku, dengan pemahamanku, dengan keyakinaku. Maka kumerasa bahwa aku harus mencari lelaki yang mempunyai visi yang sama denganku.  Adalah sulit bagiku untuk ta’at dengan penuh keihklasan jika tanpa kefahaman. Olehkarenanya aku harus faham atas setiap permintaan yang terucap dari qowamku, artinya aku harus mencari orang yang sefaham denganku, agar mengurangi berbagai friksi yang terjadi nanti, semoga. Dan juga tentu saja memudahkanku untuk mencari pahala syurga, dengan bentuk keta'atan yang penuh keikhlasan pada suamiku kelak.

Begitulah, perjalanan untuk menghilangkan ketakutan akan sosok lelaki asing nan egois memasuki tahap mencari seseorang dengan visi yang sama. Tak peduli suku, kekayaan, tampang maupun lingkungan. Sebuah ikhtiar untuk mengalahkan ketakutan. Karena aku sadar, aku harus segera menyembuhkan ketakutanku ini. Karena, pernikahan adalah sesuatu yang sunah dan bisa menjadi wajib tergantung kondisi. Dan itu akan sulit jika ketakutan itu masih bersemayam dalam benakku.

Pencarian seseorang yang se-visi ini haruslah sejalan dengan perbaikan diri. Ya memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu. Bukankah Alloh akan memasangkan seseorang yang sepadan dengan kita?
"Perempuan-perempuan yang keji adalah untuk yang keji pula dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji, sedangkan wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik juga diperuntukkan bagi perempuan-perempuan yang baik….” (QS.24:26)".
Maka tak pantaslah rasanya kita meminta seseorang yang baik, jika kita tidak berusaha memperbaiki diri kita. Bukan hanya semata-mata untuk mendapatkan jodoh tentunya, tapi untuk mendapatkan posisi yang terbaik di hadapan Alloh, insyaAlloh.

Masa pun berjalan, beberapa niat baik pun terlewat karena visi. Ya, visi yang berbeda, cara pandang yang berbeda, terutama cara pandang mereka tentang muslimah dan perannya sebagai hamba Alloh swt. Point itu menjadi penting bagiku, karena aku seorang hamba Alloh. Dan bukankah tujuan hidup kita adalah untuk menyembah padaNya?

Ikhtiarku untuk menyembuhkan ketakutanku tidak berhenti hanya dengan mencari seseorang yang se-visi, tapi juga dengan membaca banyak buku, diantaranya buku tentang pernikahan. Mempersiapkan diri tentang kehidupan seperti apa yang nanti insyaAlloh akan kujalani, kujalani selama sisa hidupku.

Aku juga berusaha untuk makin mengenal Rabb-ku, karena kusadari bahwa jawaban dari semua ketakutanku adalah adanya keikhlasan dalam hatiku. Ya sebuah keikhlasan akan pilihan yang nanti Alloh tetapkan, siapapun dia egois atau tidak. Aku juga harus belajar lagi untuk senantiasa berhusnuzhon terhadap semua rencana Alloh. Bukankah setiap rencanaNya pasti berakhir dengan indah? Hanya saja, sering kita terlalu berprasangka buruk, dan merasa takut akan perasaan yang kita timbulkan sendiri. Seperti ketakutanku akan sosok lelaki asing itu.

Proses penyembuhan yang yang panjang dan lama, mempersiapkan jiwa yang rapuh. Bukan hanya menyembuhkan ketakutan akan sosok asing. Tapi menguatkan dan memahamkan keikhlasan dan rasa tawakal lebih dalam lagi pada jiwaku. Keikhlasan dan tawakal, kunci akan ketakutan terhadap hal-hal duniawi. Proses yang tak pernah kuyakini pasti kapan akan berakhir dan kapan aku akan dinilai siap. Aku hanya percaya, Alloh punya skenario yang baik dan terindah untukku.

Hingga tiba saatnya satu amanah datang lagi menghampiriku. Amanah diatas beberapa lembar kertas yang harus kupelajari baik-baik, kupertimbangkan dan kuberikan keputusan.

Saat itu aku merasa mungkin kini tibalah saatnya, saat dimana Alloh telah mempersiapkan jiwaku untuk SIAP. Ya serta merta tanpa banyak pertimbangan dan tanpa tahu apa alasannya aku merasa siap untuk definisiku saat itu. Aku siap untuk menerima lelaki asing dalam hidupku, insyaAlloh.

Meskipun aku tidak mengenalnya sebelumnya, dan tentunya tidak tahu apakah dia seorang yang egois atau tidak. Namun berbekal kepercayaan bahwa dia seorang yang baik dan dipilihkan oleh orang yang baik, maka saat itu aku yakin aku insyaAlloh SIAP dengan sosok lelaki asing, siapapun dia. Aku kuatkan hatiku bahwa Alloh pasti akan memberikan yang terbaik menurutNya. Bukankah aku telah meminta padaNya kriteria seperti apa yang kuinginkan, aku telah bercerita, aku telah mengatakan pada Rabb Semesta Alam. Sekarang tinggal menunggu, menunggu keputusan apa yang terbaik yang akan Dia berikan padaku.

Tapi ternyata cerita masih harus berlanjut. Alloh mengujiku, sedang menempaku dengan proses yang kujalani itu. Proses yang berakhir dengan tidak baik, dan cara yang juga tidak mengenakan.

Kecewa ?  Tentu, sangat kecewa. Tapi bukan kecewa karena  tidak berakhir dengan baik, ataupun karena aku telah memiliki rasa padanya dan ingin bersanding dengannya. Tapi kekecewaan yang sulit di definisikan dengan kata-kata dan mungkin sulit dimengerti oleh yang lain.

Aku kecewa karena, aku telah terlanjur menaruh harapan yang begitu tinggi pada sosok lelaki yang tampak shalih dari luar. Aku menaruh dalam pundak mereka sebuah kesempurnaan, sebuah visi yang jauh mengangkasa ke langit. Sosok penerus para Nabi, menyebarkan kebaikan di muka bumi. Aku lupa bahwa mereka adalah manusia, yang memiliki ketertarikan tersendiri, sisi kemanusiaan yang tidak mungkin dipungkiri. Sosok lelaki shalih di zaman ini tak lah sesempurna manusia agung, Muhammad Rasulullah saw. Dan begitupun dengan dirinya, dia tidak sempurna, dia menunjukan sisi kemanusiaanya, sehingga cerita kami berakhir pada sebuah akhir yang tak enak dipandangan manusia.

Saat itu aku ditempa, aku diajari, dan aku disiapkan oleh Rabb pemilik jiwa, bahwa dibalik perasaanku bahwa aku SIAP, ternyata Alloh masih menilai ada yang kurang dariku. Aku masih mempunyai angan yang terlalu tinggi dan tidak manusiawi terhadap seorang manusia biasa. Alloh lebih menyiapkanku lagi dengan peristiwa ini, mentarbiyahku lagi, bahwa siapapun Qowamku nanti, dia adalah manusia biasa, sama sepertiku. Seseorang yang masih diliputi berjuta sisi kemanusiaan, yang bahkan mungkin tak terbayangkan sebelumnya.

Dan sekali lagi, aku bersyukur atas tempaanya. Karena dilain hari aku menyadari, bahwa Alloh juga telah mengabulkan do’aku dengan peristiwa itu. Do’aku agar aku memiliki pendamping yang se-visi, dan ternyata kejadian itu menunjukan bahwa dia tidak se-visi denganku. Alloh Maha Tahu, bukankah begitu?

Meski akhirnya kusadari hikmah yang begitu besar atas kejadian itu, namun tetap saja pada mulanya kejadian itu menimbulkan rasa ketakutan terhadap Lelaki asing nan egois yang tadinya mulai sembuh, sedikit muncul kembali. Aku mengalami masa kerapuhan, masa dimana aku tidak lagi bisa mempercayai sosok laki-laki manapun, bahkan laki-laki dengan visi yang sama denganku. Adakah lelaki yang baik, yang menggantungkan cinta hanya pada RabbNya?

Namun, Alloh kembali mengingatkanku melalui seorang adik manis dan lugu. Dia mengingatkanku kembali akan arti keikhlasan dan rasa tawakal, serta untuk senantiasa berhusnuzhon pada Alloh swt dalam kata-kata sederhanya. Hingga setelah berbincang dengannya, aku merasa kembali siap, ya siap untuk kembali menerima lelaki asing dalam hidupku, lelaki asing yang memang telah Alloh takdirkan untuk menjadi pendampingku, nanti.

Usia 25 tahun lebih 4 bulan, Alloh mengijinkanku untuk menggenapkan separuh dienku. Bersama lelaki yang tidak kukenal, dan tidak kuketahui riwayat keegoisannya. Apakah egois atau tidak.

Menjelang empat tahun pernikahan kami, ternyata hidup bersama lelaki asing itu tidaklah begitu mengerikan. Tentu ada tangis, ada kesal, ada marah dan juga dipenuhi dengan ketidaksempurnaan. Tapi ternyata kehidupan yang indah telah Alloh hadirkan, selama rasa syukur selalu menyelimuti hati kami berdua. Selama rasa ikhlas dan tawakal selalu mengiringi terhadap setiap keputusan yang Alloh tetapkan, serta selama husnuzhon masih bertengger dalam jiwa kami.

Pembentukan pemahaman yang begitu lama, menghabiskan waktu, kesabaran dan air mata. Sebuah tarbiyah yang tidak pernah kusesali, namun senantiasa kusyukuri. Mungkin aku bukan pemenang lomba menikah termuda. Tapi aku yakin, kapanpun saat kita menikah, itulah saat terbaik yang Alloh berikan untuk kita.

Xenophobia akan lelaki asing nan egois, mengantarkanku pada lika liku perjalanan kedewasaan yang panjang yang Alloh swt berikan. Membuatku lebih arif dalam memandang hidup. Bahwa tentu saja sebagai  seorang manusia kita senantiasa dihinggapi berjuta perasaan takut. Namun, rasa takut itu harus kita cari obatnya, bisa yang instan ataupun lama dan penuh perjuangan. Mana-mana yang terbaik yang bisa kita usahakan. Dan tentunya dengan penuh keyakinan bahwa Alloh akan setia mendampingi selama prosesnya.
 
Satu point penting lagi, perjalananku mempersiapkan diri menerima lelaki asing itu membuatku bisa lebih bijak memandang pernikahan. Bahwa kesiapan antara satu orang dan yang lainnya untuk menikah tidak bisa disamaratakan. Tak bisa kita mengojok-ojok orang untuk menikah seenak udel kita. Masing-masing kita berproses menuju kedewasaan serta kesiapan. Dan menikah memerlukan kesiapan dan kedewasaan psikologis, sosial, materi dll.  Itu menurutku.

Alhamdulillah ala kuli hal...


-::-

Mbak Lessy ikutan lagi yaa... Mau ikutan? Klik disini

Monday, 6 September 2010

ibu cerewet?

haha ini mah bukan mo ikut-ikutan teh kathy .. ^___^
hanya sebagai ibu saya merasa harus sangat kritis dan cerewet atas apa yang akan saya 'berikan' pada anak saya..
baik itu makanan, minuman, tontonan, pendidikan, cara pengasuhan dsb dsb..
itulah kenapa saya banyak searching tentang anak meskipun belum menikah, saya sangat suka artikel yang menyangkut anak dari sejak dulu kala..
*siga sudah sepuh pisan kieu nya...

Meskipun tidak/belum mampu melaksanakan apa yang dianjurkan secara optimal, tapi saya berusaha.. ya berusaha...
Saya merasa tak nyaman kalo hanya mengikuti kebiasaan turun temurun, ataupun berdasarkan katanya ... katanya yang gak jelas sanadnya..
Tapi itu bukan berarti saya tidak mau menerima nasihat. Tentu saja saya terbuka menerima nasihat, tapi tentu saja saya harus tahu alasannya, manfaatnya dsb dsb..
Sebisa mungkin, saya harus tahu dan yakin mengapa saya ambil keptusan A.. atau B .. atau bahkan pun ketika saya belum mengambil keputusan..

Kenapa...???

Karena anak adalah amanah utama seorang ibu..
Jika kita mampu bersikap profesional terhadap amanah kita sebagai pegawai, student dan yang lainnya...
Bukankah kita harus lebih profesional dalam mengemban amanah kita sebagi ibu?
Karena pertanggung jawabannya pd sang Khalik, pencipta setiap jiwa...

Jadi kata siapa kalo Ibu itu pekerjaan yang biasa-biasa saja?
Itu adalah amanah yang sangat agung, yang sangat besar..
Karena dari tangan ibulah akan lahir suatu generasi.. masyarakat...
Kepribadian Ibu, sedikit banyak mempengaruhi cermin kehidupan di masa selanjutnya...
Oleh karena itu, saya harus menjadi ibu yang kritis, yang cerewet, yang cerdas, yang berjuang untuk mewujudkan generasi yang baik...

Wallahu'alam bi showab...

Ayoooo Relaaaaaaaaaaaa berjuaaaaaaaaaaaaaanng !!!

**biasaaaa setelah baca blog seorang Teteh, dan juga dalam rangka menyemangati diri sendiri agar baca-baca lagi tentang baby untuk si dedek caby(calon baby)....
Maaf Nak, si Ummi sudah lupaaaa ..., harus di reset or install ulang? terlalu overload kayaknya

Thursday, 2 September 2010

wafa: 2 Tahun



assalamu'alaykum warrahmatullahi wabarakatu wafa shalihah...

hari ini genap usiamu 2 tahun ya Nak. Tak terasa sungguh tak terasa, ah si Umi jadi cirambaian  begini geulis.....  Cirambaian karena terharu.. hiks hiks..

Banyak banget yang ingin Ummi sampaikan, Umi tulis satu-satu yaa..

Diawali dengan weaning with Love-nya Wafa yang agak beda dari definisi selama ini. Terinspirasi dari definisi weaning with Love yang difahami selama ini (Ummi lupa source- MPnya), maka Ummi sudah membahasakan tentang menyapih ini dari sejak bulan April akhir, ketika teman sepermainannya Wafa sudah pada disapih. Waktu itu yang Ummi sampaikan bahwa Wafa sudah besar, sudah tidak boleh menyusu lagi. Teman-temannya Wafa juga sudah tidak menyusu. Wafa-pun tampak faham tak faham ya Nduk?

Kalo Ummi tidak lupa, alhamdulillah waktu itu 2 malam Wafa tidak menyusu. Namun si Ummi jadi gamang, soalnya Wafa belum genap 2 tahun, masih punya hak untuk menyusu.

Jadinya ya gitu d, plin-plan. Ditambah setelahnya Wafa demam, jadi aja makin gak tega. Dan ternyata efeknya lebih parah, karena si Ummi melanggar peraturannya sendiri, jadinya Wafa makin histeris kalo gak dikasi nenen.

Kalo ditanya "Wafa tos ageung (Wafa sudah besar)?, maka dia ngangguk, "Tos teu nenen deui (sudah tidak menyusui lagi)?, diapun ngangguk. Tapi kalo sudah pengen menyusu, bisa histeris dan bikin luluh si Ummi.

Karena produksi ASI yang kian menipis ditambah stress kali yaa sama writing, jadinya terkadang sakit kalo menyusui, sehingga si Ummi ini suka bilang begini,

"Wafa nen-na atos nya, wafa kan tos ageung, Ummina auh",

"Wafa sudah ya nenen-nya, Wafa kan sudah besar, Umminya sakit", begitu kira kira terjemahannya..

Kadang Wafa ngangguk, kadang makin gak mau melepaskan diri, harus dibujuk lama..

Karena seringnya kejadian ini, sampai pada suatu hari Wafa ber-ekting menyusui si Beri, boneka kesayangannya lalu kemudian berkata pada Beri,

"Beri, tos nya? Ateung, aauuuh", ujarnya.

"Beri sudah ya? (sudah)Besar, sakiit", sambil melepaskan Beri dari pelukannya..

Haha, sampai menyerap gitu bujukan si Ummi sama Wafa...

Sampai akhirnya, di suatu petang ketika kami jalan-jalan beli makan ke U7 terjadilah dialog antara ibu dan anak berikut ini,

"Wafa tos ageung (sudah besar)?, dan dia pun mengangguk. "Tos teu nenen deui (Sudah tidak menyusu lagi)?, kembali gadis mungil itu mengangguk, "Nyaan (betul), janji?, kata Ummi, "Iya", kata Wafa.

Sepulang dari sana si Ummi pun berfikir, Wafa berjanji, fahamkah Wafa akan makna 'janji'?

Kata janji itu adalah sesuatu yang abstrak, sesuatu yang didefinisikan dengan pemahaman, tingkah dan perbuatan. Jika janji ini dengan mudah dia langgar, maka mungkin akan terpatri dalam benaknya bahwa janji boleh dilanggar, dan itu amat sangat bahaya.

Sehingga, malam itu Ummi bertekad untuk benar-benar menyapihnya. Mungkin akan sakit, tapi semoga akan memberikan bekas yang baik selama hidupnya, mematri sebuah kata janji dalam benaknya dengan baik. Aamiin..

Maka hari itu, 3 Agustus 2010 Wafa disapih.

Wafa mengamuk? Tentu saja. Dia tak mau minum, dan terus saja mengamuk. Awalnya tak mau Ummi peluk, namun akhirnya tertidur dalam gendongan Ummi. Tengah malam bangunpun penuh perjuangan, Ummi peluk lagi dan alhamdulillah tidur lagi. Perjuangan hampir selama seminggu. Saat menidurkan Wafa adalah saat yang paling berat. Ketika pagi dan sore Wafa memang sudah jarang menyusui dan lebih mudah dialihkan dengan hal yang lain jika memang ingin menyusu.

Alhamdulillah setelah sebuah perjuangan, sekarang Wafa sudah tidak menyusui lagi. Tapi masih sering tampak tergoda . Sering bilang juga, "Nenen dede?", maksudnya Nenen untuk dede bayi? Lalu Ummi berkata,"Iya, ceuceu kan sudah besar".

Atau kadang bilang mau nenen, lalu Ummi senyum dan bilang aah maluu, wafa kan sudah besar dan kemudian Wafa pun tersenyum.

Sempat timbul perasaan bersalah karena Wafa disapih belum genap 2tahun dalam perhitungan bulan Masehi, tapi kalo dihitung dari bulan hijriyah, alhamdulillah pas 2tahun. Jadinya mengobati rasa bersalah Ummi.

Oia sejak awal proses menyapih ini, si ummi makin sering membahasakan ke Wafa kalo Wafa sudah besar, jd Ummi suka nanya,

"Wafa mau adek?", dan dijawabnya dengan anggukan yang pasti. Tapi setelahnya Wafa kemudian bilang dedek bayi sambil menunjuk ke dirinya, lalu ber-ekting jadi bayi dan minta gendong bayi. Lama-lama Ummi menyadari, mungkin yang wafa fahami bukan wafa mau punya adek, tapi wafa mau jadi adek bayi

Tapi kemaren sepulang dari klinik, si Ummi nanya lagi,

"Wafa mau punya adek?", dan lagi dijawabnya dengan anggukan.

Lalu Ummi cerita kalo di perut Ummi ada dedek bayi . Awalnya Wafa bingung. Kemudian Ummi bilang, iya di perut Ummi (insyaAlloh ada dedek bayi), coba Wafa elus dan sayang...

Lalu Ummi pun menunjukan buku ensiklopedia anak, dimana disana ada gambar janin didalam perut.Lama sekali Wafa mencoba mencerna, entah faham atau tidak ya?

Namun alhamdulillah sekarang Wafa sudah bisa bilang, "dedek bayi Wafa di perut Ummi"

Waktu Ummi nelpon ke Aki untuk ngabarin (calon) dedek bayinya, Wafa juga ikutan bilang, "dedek perut Ummi", katanya

alhamdulillah, semoga makin hari dengan makin membesarnya perut Ummi nanti, Wafa makin faham yaa..

Oia, pelajaran yang Ummi ambil dari menyapih ini. Pertama harus buat milestones yang jelas, jangan terlalu lama dan terlalu mepet. Kedua juga harus tegas, karena ketika kita ragu-ragu dan maju mundur, maka akan membuat anak makin rewel dan susah disapihnya. Mungkin terpatri dalam jiwa anak bahwa ibunya masih bisa dibujuk dengan tangisan dan tantrum ..

Nah nah setelah laporan menyapih dan insyaAlloh kehadiran dedek bayi baru, mari kita tuliskan perkembangan Wafa ...

Wafa sudah bisa berhitung, awalnya..

satu, dua, tilu, opat, lima, tujuh, elapan, embilan, epuluh, ebelas..

sekarang menjadi

satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, elapan, embilan, epuluh, ebelas, tiga puluh .

Juga punya lagu paporit tentang angka yang nadanya dia ciptakan sendiri. Ummi gak bisa mencontohkannya dg tulisan, tapi yang jelas nyanyinya nyebutin angka-angka gt d!

Tapi 'kepandaian' berhitung ini hanya dalam ucapan. Kalo diminta menghitung ada berapa jumlah suatu benda, maka Wafa akan berhitung dan kemudian meneruskan hitungannya meskipun benda yang dihitung sudah terhitung semua . Hingga benda yang jumlahnya dua bisa jadi sembilan

Juga sudah mulai mengeja huruf hijaiyah, tentunya sesuka hatinya. Membahasakan membaca Al-Qur'an dengan kata ABaTa, jadi kalo orang disekitarnya membaca Al-Qur'an maka Wafa akan bilang, "ABaTa?"

Wafa sudah ingin dilibatkan dalam semua kegiatan, nyapu, ngepel, ambil makanan, pakai baju, melipat baju/mukena/sajadah, sikat gigi, membersihkan pipis dll. Pokonamah sadayana, dan biasanya diiringi kata "gak boleh", maksudnya gak boleh dibantuin .

Hobinya melayani Abah, diambilin makannya, minumnya, anduknya, bajunya ..

Sudah bisa diajak ngobrol dua arah dan juga membahasakan situasi yang dilihatnya. Seperti tadi malam, dilihatnya dek Umar menggulingkan badan, lalu datang Teteh mendekati dek Umar dan menggendongnya. Lalu Wafa lapor ke Ummi,

"Umaaa guling, Umaa nong Teteh", artinya "Umar terguling, Umar digendong Teteh"

Wafa juga sudah ingin 'mengatur', terutama sama Abahnya...

Suka bilang "abah sini, abah ayoo, abah gek (duduk) sini, abah gak boleh".. serta yang lainnya..

Jailnya juga suka keluar, menempati tempat duduk yang tadinya kami dudukin. Masuk lift lalu merentangkan tangannya, gak boleh gak boleh katanya, maksudnya gak boleh berdiri disepanjang rentangan tangannya. Lalu kami godain, berdiri justru pas di tempat yang dia bilang gak boleh, dan reaksi Wafa ketawa ketiwi d!

Kalo sama Abah ada tambahan, ketika Abah pulang malam dan bunyi pintu tanda Abah datang sudah terdengar, maka Wafa akan segera berlari ke kasur Abah dan menempatinya. Hahaha, iseng nurun ti saha iyeu teh?

Tapi kata gak boleh ini juga jadi andalan kayaknya, kalo ada kawannya mau pinjam mainan, keluar kata gak boleh. Ada mainan di tempat umum yang bekas dipakai Wafa trus yang lain mau pakai, Wafa bilang gak boleh. Seriing  banget bilang gak boleh 

Gimana yaaa cara menguranginya, apa karena si Ummi keseringan bilang gak boleh ya?  


Oia wafa sudah mengenali kalo namanya adalah Asiah Wafa Shahidah. Sering terjadi kejadian kayak gini,

"Ini siapa?"

"Ceuceu", jawabnya,eh trus diralatnya,"Eh butan(bukan), Asiah"

"Trus ceuceu wafa mana?",

"Hmmmh", dia tampak berpikir, "ap (HP Ummi maksudnya)", atau "Pie (Lapie Ummi)". Maksudnya ceceu Wafa ada di hp dan Lapie Ummi dalam bentuk rekaman

Atau sering bilang Wafa Hidah alias Wafa Shahidah.

Selain mulai mendefinisikan dirinya sebagai ceuceu, asiah, wafa, dan dedek bayi, Wafa juga suka mendefiniskan dirinya (berakting) jadi meong, lalu menyebut Ummi sebagai Ummi meong dan Abah meong .

Dan mendefinisikan dirinya sebagai Wafa si meong ini cukup ampuh meredakan kerewelannya, dan tantrumnya. Apalagi kalo ditambahin gaya mengelus leher dan jentikan jari perintah mendekat. Heuheu imajinasi yang aneh..

Eh eh oia, Wafa juga udah tau kalo nama Umminya Rela dan Abahnya Teguh. Jadi suka bilang "Ummi La", tapi kalo untuk Abah teuteup "Abah ceuceu"..  

Nah, di bulan Ramadhan ini tarbiyah juga untuk Wafa untuk lebih mengenal mesjid. Kalo Ummi tarawih insyaAlloh diajak. Biasanya anteng kalo ada teman mainnya, walopun teuteup bulak balik jalan ke depan Ummi.

Tapi beberapa hari yang lalu sempat diajak kenalan sama seorang anak dengan cara yang tidak biasa, anak itu mukul -mukul Wafa sampai si Ummi ikutan ngalangin sambil sholat. Jadilah Wafa menangis dan minta gendong selama Ummi sholat...

Pas i'tikafpun begitu, ketika Wafa bangun, dia minta gendong.. Hiks hiks.. mungkin masih perlu waktu lagi untuk Wafa bisa memahami ya Nak..

Tapi tampaknya Wafa seneng d ikutan i'tikaf, soalnya banyak kawannya. Saking senengnya Wafa baru tidur jam 00.25, itupun karena ngantuk beratzzz. Sebelumnya dia memperhatikan terus seorang abang yang mainin selimutnya, dan tentunya tak lupa diikutin sama Wafa

Alhamdulillah Wafa cukup kooperatif, tidak terlalu sering kebangun dan nangis di malam i'tikaf yang pertama. Shalihah suka i'tikaf sayang? Yuk kita i'tikaf lagi ya Nduk. Semoga dirimu makin mencintai masjid

Selama Ramadhan ini kami sering keluar malam, hingga Wafa makin sering menikmati indahnya malam. Dia paling suka melihat bulan sabit, dan akan teriak teriak "Bulan bit", ataupun ketika melihat bintang dia berkata, "tang". Lalu Wafa pun berkata, "Bulan bit ceuceu", lalu Ummi menjawab, "Bukan, bulan sabit punya Alloh". Hingga diapun akhirnya mengetahui bulan sabit, bintang, matahari, pohon milik Alloh swt. Lalu sering terdengar ucapan, "Bulan bit Awwoh", atau "Tang Awwoh", ataupun, "Awwoh Abar (allohuAkbar)"..

Mungkin wafa belum faham makna dan hakikat Alloh, namun setidaknya Wafa mengenal kata Alloh serta mengetahui bahwa Pemilik hal-hal yang indah yang dikaguminya adalah Alloh swt.

Aamiin...


wisssshhhh panjangnya,.. heeemmh ada yang kelewat gak ya?

Apalagiii yaaa..

Oia, alhamdulillah walopun awal bereaksi dengan menangis, dengan teriak, namun ketika Ummi melarang sesuatu dan menjelaskannya, di lain waktu Wafa akan faham. Misal ketika hari hujan sehingga Wafa gak boleh main perosotan. Awalnya nangis keras dan ngamuk. Lalu Ummi bilang, kalo hari hujan, wafa bisa sakit kalo teuteup main. Dikemudian hari ketika Wafa akan main perosotan dia akan mengkonfirmasi ulang, boleh kan, hujan gak? Dan tentu saja ketika tidak hujan, Ummi ijinkan

Wafa juga sudah mulai mau memakai kerudung/topi keluar, ditambah dengan meletakan kerudung bekas pakai ke tempat khusus yang dia definisikan sebagai tempat menyimpan kerudung.(Haha, nurun ti saha nya? Si Ummina mah sok teu pararuguh nyimpen nanaon teh)

Dulu, wafa sering ogah pakai kerudung. Ummipun gak maksa, takut trauma. Selain itu juga karena Wafa sering biang keringat kalo kepanasan.

Akhir-akhir ini Ummi sering mengajak Wafa pakai kerudung or at least pakai celana panjang kalo keluar. Jangan sexy-sexy amat lah, biar membiasakan diri kalo keluar bajunya jangan terbuka

Jadinya sekarang kadang mau kadang nggak kalo pakai kerudung. Pernah suatu hari Ummi membujuk Wafa pakai kerudung dengan mengatakan Ummi berkerudung, Bi Etri juga. Lalu Wafa menjawab, "Abah dung?". Haha abah mah laki-laki Neng, jadi gak pakai kerudung. Hehe entah faham atau tidak tentang ini..

Pernah sekali waktu ketika Wafa ngajak Ummi keluar, Ummi bilang,"Sebentar cari kerudung dulu", lalu Wafa pun ribut mau nyari kerudung untuk dipakai olehnya sendiri...

Dari sini si ummi belajar, bahwa insyaAlloh Wafa akan belajar dari lingkungannya. Saat ini Ummi tidak memaksa untuk memakai kerudung, tapi insyaAlloh kalo Wafa melihat Ummi memakai kerudung kalo keluar, maka insyaAlloh pelan-pelan pemahaman itu akan ada..

aamiin..

Alhamdulillah Wafa juga sudah mau berdoa, awalanya gak pernah mau ngikutin Ummi kalo berdoa.

Namun pada suatu hari, Ummi bercerita tentang Bani si kelinci dari soft book yang ada bonekanya. Ceritanya si Bani berdoa sebelum tidur. Wafa akhirnya mengikuti, awalanya sambil ketawa ketawa, tapi akhirnya bisa ngikutin juga. Doanya pasti diawali dengan

"similaah simillah (bismillah)", dan terus-terusan sampai Ummi bilang, "Bismika", lalu wafa bilang Ummi gak boleh bilang. heuheu..

Lalu akhirnya berdoa, "mita allauma aya mita amut". Kadang gak mau pakai bismika, maunya "allauma aya mita amut", atau kadang pakai bismika tapi jadinya "mita allauma aya mita allauma aya..", terus muter deh. Si Umminya mau ngebenerenin, diprotes . Jadilah si Ummi berdalih bukan mau bantuin Wafa, tapi emang Ummi mau do'a . Dan Wafapun mengikuti dengan aman gembira.

Mulai belajar baca do'a makan, masuk kamar mandi, doa bangun tidur, naik kendaraan... semua do'a yang bisa kami ajarkan. Tapi yang nempel baru do'a mau tidur saja. Kadang naik kendaraan pun do'anya mau tidur ..

Hehe, gpp belajar ya Ceu..

laporannya begitu dulu yaa, nulisnya dicicil dari sejak wafa bDay dan baru bisa diselesaikan sekarang, teulat pisan tapi tak apalah...

23 agustus 2 tahun yang lalu kita sama - sama berjuang agar dirimu bisa terlahir ke dunia ini, dan Allohpun mengijinkannya..

mari kita berjuang lagi sayang, berjuang agar Alloh swt mengijinkan kita berkumpul di jannahNya..

aamiin