Friday, 14 October 2011

W:: Tanggung Jawab

Ketika Husna lahir, saya sering mendapatkan pertanyaan,
"Bagaimana, Ceu Wafa cemburu gak?"

Dengan keyakinan kuat saya berkata, "Alhamdulillah tidak cemburu, Wafa baik sama adeknya. Cuma kadang karena gerak motorik halusnya belum sempurna, jadi sering menunjukan rasa sayangnya ke Husna dengan cara yang tidak biasa."

Tentu saja, jawaban itu sebenarnya untuk membentuk paradigma positif dari diri saya terhadap si sulung Wafa. Juga sebuah do'a. Bukankah ucapan ibu itu do'a?

Namun bertambah hari ternyata kesabaran saya juga teruji. Wafa juga menampakan kecemburuannya. Terkadang dia iseng sama adeknya. Bahkan sering melakukan sesuatu yang sepertinya ingin menguji kesabaran Umminya 

Daaan...
Saya bukanlah orang yang sempurna. Seringkali kesabaran saya berada pada titik terburuk. Meledak Marah!!! 

Alhamdulillah, Alloh mendidik kami dengan skenarioNya.

Tibalah saat dimana kami ditinggal bertiga, Ummi, Wafa dan Husna. Abahnya Wafa harus pulang ke Indonesia untuk suatu urusan.

Hari-hari pertama banyak dilewati dengan tangisan dan emosi. Apalagi saya waktu itu diuji dengan flu beraaatttzzzz . Jadilah keadaan rumah kacau balau.

Alhamdulillah, ketika akhirnya flunya membaik, emosi ikut turun, dan otak pun ikut berpikir dengan jernih.

Selama ini, Wafa senang sekali jika diminta membantu saya menyiapkan pakaian adiknya, menyiapkan disposable diapers adeknya. Bahkan dengan senang hati membawakan baju dari kamar setrikaan. Mengambilkan minum, atau bahkan mencarikan hape saya yang berbunyi. 

"Tiing!" sebuah ide muncul.

Sebagai seorang Kakak, Wafa senang diberi kepercayaan. Apalagi seringkali Wafa mampu mengajak adeknya bermain, bahkan sampai adeknya ikutan tertawa terbahak-bahak. 

Baiklah, dengan menguatkan kepercayaan, dan menitipkan jiwa kecil itu pada Rabbnya, Wafa saya beri tugas untuk menjaga adiknya.

Alhamdulillah, dengan kalimat, "Wafa jaga adek ya!" Wafa jadi lebih bertanggung jawab pada adeknya. Menjaganya, mengajaknya main sehingga lupa untuk berbuat iseng. Keuntungan lainnya, saya jadi bisa masak, dan membereskan pekerjaan rumah lainnya.

Tapi tentu saja, mereka tidak boleh ditinggal terlalu lama. Walau bagaimanapun Wafa masih kecil. Banyak hal yang berbahaya yang dia lakukan, dan tidak disadarinya. Jadi tetep saya harus bolak-balik ngecek keadaan. 

Apakah keisengan Wafa hilang, cemburunya lenyap?
Oo tentu tidak. Wafa masih sering iseng, kerap menguji coba kesabaran Umminya, dan tak lupa cemburunya juga kadang muncul. Tapi tentu saja intensitasnya berkurang. Selain itu, dengan pemberian tanggung jawab ini, Wafa belajar untuk menjaga adeknya. 


shalihah.. rukun-rukun selalu ya sayang ..:)

LuV

Thursday, 13 October 2011

FL :: Wafa Masak- Ngupas endog (Telur)




AKhirnya bisa mengabadikan Wafa sedang memasak.
Dulu mah boro-boro di foto, kalo ketauan bawa kamera langsung pengen megang. Yang ada masakanya gak jadi d!

Sekarang mah Wafa mulai hobi difoto. Mkanya, pasa dibilang,"Ceu foto ya!"
"Iya!" jawab si Ceuceu riang.

Tuesday, 11 October 2011

menemanimu

selalu ingin menemanimu mencapai impianmu,
namun seringkali engkaulah yang menemaniku mencapai inginku,

aku harus terus belajar dan berusaha,
menjadi seperti Khadijah,

semoga suatu saat nanti ...

aamiin


Wafa :: Orang Indonesia

Dari sejak masih dalam kandungan, Wafa sudah saya ajarkan berbicara bahasa Sunda. Alasannya mengenalkan budaya, memberikan rasa, membentuk pribadinya.

Setelah pandai berbicara, Wafa alhamdulillah tidak mengalami kesulitan berbicara. Dia mampu berbicara Sunda dan Indonesia, sesukanya, sebisanya. Saya pun tidak terlalu mempermasalahkan ketika dia menjawab pertanyaan saya dengan bahasa Indonesia, meskipun saya bertanya dalam bahasa sunda.

Gaya bicara campuran ini makin bertambah serunya ketika Wafa mulai masuk TasKa, atau Play Group. Karena Wafa mulai mengenal bahasa Melayu. Jadilah dia berbicara gado-gado di rumah. Kadang Sunda, Indonesia, dan Melayu.

Namun sejak beberapa minggu ini, saya mulai mengajarkan dia untuk menjawab pertanyaan saya dengan bahasa sunda. Tujuannya agar dia berani dan mampu berkata dalam bahasa Sunda, bukan hanya mengerti saja. Selain itu juga agar mampu berbahasa Indonesia yang baik, tidak tercampur -campur.

Cara saya mengajarkan Wafa untuk menjawab bahasa Sunda adalah dengan membetulkan kalimat Wafa ketika dia berbicara dengan saya. Dan juga mengenalkan bahwa kalo sama Ummi bicaranya dengan bahasa Sunda, Ummi orang Sunda 

Karena saya menyampaikan tentang orang Sunda ini, Wafa pun bertanya pada Abahnya,
"Abah orang Sunda?"
"Bukan, Abah orang Jawa," jawab Abahnya. 


Naah, tadi ketika berbincang-bincang dengan Wafa sebelum tidur, mulut kecilnya berucap,
"Ummi orang Jawa,"ujarnya dengan kalimat berita.
"Bukan, Ummi orang Sunda," ucap Ummi tanpa maksud membedakan.
Kemudian Wafa menjawab dengan polosnya, "Wafa orang Indonesia."
Good! 

Karena Wafa 'blasteran' Jawa dan Sunda, maka Wafa orang Indonesia ya Nak .. :)

hehehe alhamdulillah, putri Ummi dan Abah.. pandaaaiii ...:)


Perbedaan suku ini bukan masalah besar..
Tekad Ummi mengajarkan bahasa sunda pun agar Wafa mampu mewarisi nilai yang terkandung di dalamnya. Ada sebuah karakter yang menurut Ummi terbentuk lewat bahasa. Alasan yang lainnya agar bahasa Sunda ini lestari .. 

Kelak ketika kita pulang ke tanah jawa, kaupun harus pandai berbahasa Jawa. MAmpu berbicara dengan Mbah dan keluarga di tanah kelahiran Abahmu dengan bahasa Jawa 



Semoga senantiasa diberikan kecerdasan ya shalihah...
memberi maslahat untuk ummat...

aamiin. 

Saturday, 1 October 2011

WH :: Ketika Ummi terkapar

kemaren  sore, si Ummi terkapar di kasur karena diserang flu yang teramat berat

Ceuceu shalihah dengan lembutnya menyelimuti Ummi. Tubuh kecilnya bergerak kesana kemari merapikan selimut agar sempurna menutupi tubuh Ummi yang terbaring lemah. Setelah itu dia memijiti badan Ummi. Meskipun pijitannya terasa sangat pelan, namun ketulusan yang terpancar dari hatinya mampu meringankan rasa sakit di badan Ummi.
"Makasih Ceuceu shalihah." ujar Ummi pelan.
Wafa tak membalas ucapan terimakasih Ummi. Dia seperti tak mendengarnya, malah sibuk loncat loncat di kasur Abah. 
Tiba-tiba Wafa terjatuh di kasur karena menginjak guling yang tergeletak di tengah-tengahnya.
" Ha.. ha.. ha, Wafa jatuh Ummi," suara mungil itu tertawa, menertawakan dirinya sendiri yang terjatuh ketika melompat-lompat. Si Ummi yang merasa itu bukan kejadian lucu hanya diam saja. Namun Wafa tetap tergelak-gelak.
Dari arah yang berlawanan, terdengar bunyi tawa yang lebih mungil. Ternyata baby Husna (5m) ikutan tertawa melihat dan mendengar tawa Kakak-nya. Jadilah mereka berdua tertawa terbahak-bahak. Sambung menyambung. Wafa makin keras tertawanya setelah melihat adiknya tertawa, begitupun sebaliknya Husna.
"Ummi, ade tertawa.. ha ... ha...ha," ujar Wafa sambil menunjuk adiknya. Seperti mengerti, bayi Husna pun makin keras tertawanya.
Ummi yang tadinya menganggap kejadian itu tidak lucu, akhirnya ikut tertawa melihat dua buah hatinya tertawa dengan renyah.

Alhamdulillah, meskipun kepala terasa berat, Alloh swt senaniasa menyelipkan hiburan dalam hidup kita.

Ceuceu Wafa, adek Husna... akur selalu ya Nak ...
Jadilah cahaya mata Ummi dan Abah

Tuesday, 2 August 2011

Rindu Rasul

Masih membekas dalam ingatanku tangisan temanku, badannya yang bergetar hebat dan juga suaranya yang tergagap menjawab pertanyaan dari Kakak kelas kami. 

Saturday, 30 July 2011

ramadhan menjelang

ramdhan dalam hitungan jam..
menanti saat yang luar biasa..
dihiasi  keberkahan
dipenuhi pahala jika mau beramal...

teringat ramadhan ramdhan sebelumnya yang berlalu bagai hembusan angin..
ringan... tanpa ibadah yang maksimal

semoga ramadhan kali ini mampu menggapai seribu bulan
mengkhatamkan warisan dari yang tercinta baginda Rasulullah saw
berdzikir pagi dan petang
serta tak lupa menyiapkan santapan sehat untuk yang tercinta

oia..
putriku yang shalihah, Asiah Wafa Shahidah...
semoga Ramadhan kali ini berkesan untukmu ya Nak..
Tahun depan boleh belajar puasa sungguh sungguh ..:)

untuk semua sahabat...
Mohon Maaf Lahir Bathin..
Semoga keberkahan Ramadhan melingkupi kita
aamiin

LuV