Monday, 20 May 2013

Laporan Wafa & Husna : Sudah bisa apa ya?

Sudah lama tidak menulis perkembangan Wafa & Husna. Saat ini usia Wafa 4T 9B, dan Husna 2T 1B..

Yuuk ah mulai dituliskan, sebagai catatan bagi Ummi dan Abahnya. Mengevaluasi apa yang telah Ummi dan Abahnya lakukan ut dua buah hatinya ..


Ceu Wafa:
Alhamdulillah Wafa sudah,
1. Hafal 14 surat insyaAllah, Al Fatihah ditambah surat juz 30 dari Al-Ashr sampai An-Naas. Sedang berjuang menghafal surat At-Takatsur.
2. Sudah bisa berhitung 10 jari.
3. Sudah pandai mengasuh adiknya, kadang2. Tapi kadang2 juga bertengkar hehehe..
4. Hobi lari, terbukti dengan mendapat 3 medali pas sports day di TADIKA IHSAN ^__^
5. Imajinasinya sudah berkembang lebih baik. Main lego jadi hobinya. Bikin mobil, rumah dll sesuai imajinasinya.
6. Bacanya sudah sampai mana ya? Hahaha.. Ummi gak terlalu merhatiin bagian ini. Nanti deh dilihat lagi..:D
Apalagi yaa?
Nanti ditambah kalau inget


Teh Husna, alhamdulillah sudah
1. Cerewet. Banyak bicaranya... Hampir selalu mengikuti apa yang diucapkan ceuceunya :)
2. Sudah hafal 6 surat. Al Fatihah, An-Naas, Al-Falaq, Al Ikhlas, Al-Lahab dan Al - Humazah. Awalnya gak sengaja nyimak hafalan ceuceu. Sekarang Ummi seriusin nambahin hafalan Neng Una :).
3. Sudah bisa buka dan pake celana sendiri.
4. Bisa makan sendiri, tapi gak selalu mau makan sendiri. Seringnya disuapin.

Lupaaa.. hehehe.. Nanti insyaAllah ditambah lagi :)

Oleh-oleh Seminar Ketahanan Keluarga

Alhamdulillah bisa datang ke seminar 'Ketahanan Keluarga'
Anak-anak bareng Abahnya, jadi saya bisa full konsen mendengarkan yg disampaikan pembicara...
Ada beberapa hal yg sy dapatkan hari itu,

♥ Makin mengokohkan hati ut mendampingi kedua putri saya dan adik-adiknya (kelak), di rumah. Menghadapi tantangan zaman dengan do'a, cinta, keteladanan. Serta hati, telinga dan mata yang selalu terbuka. Entah apa jadinya kalau mereka memilih orang lain, bukan sy dan Abahnya, sebagai teman cerita.

♥ Makin menyadari betapa PR saya masih banyak. Ilmu saya masih cetek. Ketika Ali ra berkata, "Didik lah anakmu sesuai zamannya." Maka saya mengartikannya bahwa sy harus menjadi ibu gaul yang smart dan semoga shalihah. Ibu yang bijak yang mampu memilah dan memilih hal yang baik dari dunia luar. Bukan menjadikan anak steril, karena ia akan berhadapan dengan masyarakat, lingkungan, dan kehidupan. Tapi mendidik agar ia menjadi manusia yang imun, sehingga siap menjadi da'i dan da'iyah pembawa perubahan, penegak kalimatullah. Aamiin...

♥ Makin (belajar) bersabar. Tak ingin dua buah hati menjauh dari saya, dan menjadikan yang lain sebagai pengganti ibunya karena ibunya terlalu galak. (Na'udzubillahi min dzalik). Menjadi sahabat, bagi dua balita mungilku ^__^

♥ Makin sayang dengan si dia. Karena mau berada di rumah seharian penuh. Mengasuh dan mendidik anak-anak. Bahkan hingga malam menjelang. Ketika saya terkapar karena rahim bagian bawah yang sakit sepulangnya dari seminar, ia tetap sabar menemani anak-anak.

Alhamdulillah 'ala kuli hal....
Menjemput ilmu, mengejar hidayah. Hingga ketika pulang ke kampung akhirat nanti, ada hujah atas masa yang kuhabiskan ketika hidup di dunia.
Allahu'alam bi showab ...

Tuesday, 14 May 2013

Menjadi ibu...

Menjadi ibu...
Ketika hamil, tubuh menjadi lemah dan bertambah lemah...
Meski begitu, ibu yang shalihah tidak pernah menolak kondisi lemah ini. Setiap sakit, setiap peluh, setiap kelelahan demi kelelahan, semua dijalani dengan penuh kesabaran, demi buah hati yang insyaAllah akan terlahir nanti...

Meski tidak merasakan langsung, meski hanya mengikuti lewat cerita, dan melihat 'perjuangan'nya, namun seorang sahabat telah mengajari lagi arti sebuah kesabaran akan kondisi lemah dan bertambah lemah ini. Darinya saya belajar lagi akan arti perjuangan seorang ibu. Sahabat yang diuji dengan kondisi yg sangat 'lemah' ketika hamil putrinya yang kelima.

Alhamdulillah perjuangannya berujung bahagia. Kini telah lahir bayi yang begitu cantik. Melihat fotonya, bagaimana ia tersenyum, bagaimana ia tertidur dalam balutan selimut. Sebuah pemandangan yang luar biasa, bukti KEMAHA AGUNGAN Rabb Sang Pencipta.

Barakallahu Mbak Qonitatillah Mohd Rofii
Semoga putri shalihahnya menjadi penyejuk mata yang akan membuka jalan ke syurga. Semoga setiap pengorbanana, rasa sakit, dan semua kelelahan juga berganti JANNAHNYA.


Subhanallah perjuangan seorang ibu tak akan terganti meski seorang anak melakukan jutaan amal & pengorbanan untuk ibunya. Maka apalah lagi jika sang anak tidak menghormati ibunya. Aah betapa sombongnya ia.
Bait-bait do'a akan menjadi pelengkap selain bakti kita untuk ibunda tercinta. Semoga Allah SWT kelak membalas semua amal ibunda tercinta dengan jannahNYA. Karena hanya syurga tempat kembali yang terbaik untuk setiap jiwa.

Friday, 3 May 2013

30 April itu

Kami tak merayakan ulang tahun..
Ketika ceuceu minta kek ulang tahun pun, ummi bilang, " Gak ada kue ulang tahun ya. Tp nanti kl hafalan wafa udah 20 beli kue lg. Nanti kl sdh 1 juz, beli kue yg besar ya. InsyaAllah. "

Karena itulah, kami pun lupa kl kemaren 30 april, husna genap 2 tahun. Selain karena tidak ada perayaan juga karena husna sdh lama disapih :-(

Teteh husna sdh 2 tahun, alhamdulillah. Sdh hrs beli tiket sendiri ;-). Sdh besssaaarrr, tp tetep anak kecil..
Ummi harus banyak baca, banyak sabar, & banyak memahami, agar tumbuh kembangmu lebih baiiiik lagi...

Ummi, Abah, ceuceu saaayang una shalihah..

Muraja'ahnya Neng Una

Cerita hari ini tentang gadis berusia 2 tahun.

Pagi itu kami sedang duduk-duduk. Perut sudah kenyang, badan Una pun sudah bersih. Mandi pagi-pagi.
"Teh, ngaji yuk!" ajak Ummi.
Gadis kecil itu pun melafazkan Basmallah. Namun tiba-tiba berhenti. Dia turun dari kursi lalu, "Qur'an... Qur'an...," si gadis kecil mencari Qur'an sambil berjalan ke arah kamar setrikaan. Ia tahu Umminya menyimpan Qur'an di kamar setrikaan, agar bisa nyetrika sambil muraja'ah.
"Pake Qur'an Abah saja ya Teh." Ummi mengambilkan Qur'an Abah yg disimpan di atas meja.
Lalu Qur'an Abah pun ia terima. Lalu Una duduk manis di kursi. Gayanya seperti muslimah yg sedang tilawah. Ia lalu membaca QS Al-Lahab berulang-ulang di halaman yg tertulis surat Al-Fatihah.. ^__^
Diajak baca An-Nass, gak mau. Hari ini pengennya surat Al-Lahab terus. :)
Lalu gadis mungil itu menatap Ummi, dan berkata, " Ummi coba!"
Awalnya Ummi tak faham.
Tapi.. ' Ting'...
Ummi pun mulai membaca Al-Fatihah. Mencoba menerjemahkan maksud Una. ia ingin Ummi melafazkan surat di halaman yg ia buka. Dan yup! Betul! Una ingin Ummi memurajaah hafalan Ummi, seperti yg sering ia lihat ketika Ummi setor hafalan. Setelah Al-Fatihah selesai, gadis kecil itu kembali menunjuk halaman sebelahnya.
Aamaaaan, awal surat Al-Baqarah masih Ummi hafal. :)
Namuun tiba-tiba ia membuka halaman yg di tengah, "Ini!" tunjuknya.
"Waaah surat yang itu mah Ummi belum hafal, Teh." Si Ummi tutup muka. Hafalannya baru yg pendek2. "Yang ini saja ya!" Ummi lalu membuka QS Al-Munafiquun.
Belum selesai Ummi memurajaah QS Al-Munafiquun, gadis kecil itu lalu memberikan Qur'annya, "Coba!" ucap mulut kecilnya.
Apa lagi niiy? Si Ummi menebak apa maunya neng Una. Tak lama terdengar dia membaca Al-Lahab (lagi).
Oooo ternyata neng Una pun mau memurajaah hafalannya. Ia meminta Ummi menyimaknya, seperti yg biasa Ummi lakukan ketika menyimak muraja'ah temen Ummi ketika kami berkumpul di 'lingkaran cinta'.

Subhanalllah....Sungguh Skenario Allah SWT itu sangat indah... ♥

Sy termasuk ibu yg mempercayai bahwa tarbiyah/pendidikan anak itu kapan saja dan dimana saja. Meski lelah, meski ribet, sy ingin anak-anak sy terlibat dalam dakwah. Menyaksikan dan merasakan indahnya dakwah. Serta menjadikan Qur'an teman setianya...
InsyaAllah....
Aamiin...

Friday, 26 April 2013

Berhenti.. atau bergerak?

Ketika raga mulai terasa lelah..
Namun, amanah masih belum lagi usai, ...
Lalu, diri pun memuhasabah ...
Untuk apa lelah-lelah ini, jika nantinya tidak bisa beristirahat di alam abadi sana ...?

Segala kesibukan ini membuat tilawah sy tak tentu ....
Shalat malam pun tak khusyu karena raga masih ingin berbaring dulu,
Hapalan pun terbengkalai karena tak sempat ut duduk tenang dengan Qur'an di genggaman ..
Apalagi shalat sunah yang tak sempat tertunai karena merasa harus segera berdiri setelah shalat wajib telaksana...

Haruskah berhenti, dan diam saja...?

Hingga sebelum shalat di sepertiga malam terlaksana, terbaca sebuah untaian tausyiah yg manis dr Ustadzah Vienna Alifa..

Sy pun tersentil dengan indahnya.

Bukan, bukan sy harus berhenti atas semua kesibukan..
Bukankah orang yg terbaik itu adalah yang memiliki keshalihan sosial, disamping keshalihah pribadi?
Memberikan manfaat yang lebih banyak ut sekitar?
Pekerja keras yg bertebaran di muka bumi setelah shalat didirikan?

Lalu, apa yang salah?

Nampaknya prioritas sy mulai bergeser. Tidak lg menempatkan Allah SWT sebagai tujuan utama. Sy terlalu fokus dengan berbagai target dan keinginan sy. Astaghfirullah 'al adzim...

Seharusnya, apapun amanah yang ada di pundak, Allah SWT tetap no 1 di hati, pikiran, dan lisan sy.
Meniatkan setiap langkah, ucap, gerak atas semua laku hanya untuk keridhoan Allah SWT semata.
Memahami bahwa setiap usaha adalah ikhtiar sy ut mendapatkan hasil yang baik. Bahwa hasil atas setiap kerja sy dalam genggaman Allah SWT.
Hingga 'aneh' rasanya jika bertungkus lumus nya sy dalam suatu pekerjaan membuat ibadah yaumian sy menjadi terjun bebas ke bawah.
Karena bukankah Allah SWt yang memberi hasil? Maka sy harus merayu padaNya dengan segenap kemampuan sy. Agar semua lelah jiwa, raga dan pikiran sy mendapatkan hasil yg maksimal di dunia dan syurgaNYA...
Serta mendapatkan bonus ut berjumpa denganNYA nanti, aamiin..

Maka, sy harus bangkit. Membenahi niat, mengatur kembali manajemen amalan sy, dan menempatkan DIA sebagai No 1 dalam hati, jiwa, raga, pikiran sy ....
Bukankah kematian itu sangat dekat? Teramat dekat.

Mohon do'anya .. :)

Wednesday, 17 April 2013

Bukan hal yang mudah bagi saya ut terus berjuang tanpa keluhan.
Bukan hal yang gampang bagi saya ut terus maju, hingga hasil itu nampak di hadapan mata.
Apalagi ut terus berprasangka baik, memupuk berjuta harapan akan balasan nan kekal dan abadi di ujung sana.

Perlu usaha yang keras, sangat keras agar senantiasa berjalan. Kemudian menambah rasa syukur dalam setiap langkah yang terayun. Serta mengalirkan jutaan rasa optimisme agar gerak kaki tak terhenti.

Allah SWT melihat proses, maka bergeraklah. InsyaAllah akan ada hasil di ujung perjuangan.
Allah SWT menemani dalam setiap helaan nafas, maka berpikirlah ut melakukan sebuah terobosan.
Karena DIA senantiasa  mengistimewakan umatnya yang mau berpikir, beramal, bergerak, namun tetap tunduk, tawadhu dan patuh atas semua perintahNYA...


Yaa Rabb ...Kuatkan hambaMu ini..