Showing posts with label Parenting. Show all posts
Showing posts with label Parenting. Show all posts

Saturday, 25 May 2013

Sibuk duo krucils

Alhamdulillah ketika si sulung libur, rumah menjadi ramai. Karena Ceuceu sibuk bermain bersama adik tercinta. Konsekuensinya si Ummi gak bisa buka laptop, biar anak-anak bisa khusyu main tanpa melirik layar laptop. Alhamdulillah, ujung-ujungnya si Ummi bisa konsen mengerjakan hal lain, tidak tergoda buka laptop terus :)

Pun ketika laptop dan internet terkonek, itu adalah masanya Ummi memenuhi janji pada duo krucils tercinta. Ketika duo gadis mungil itu sudah selesai mandi, makan, shalat, dan ngaji (murajaah hafalan), maka mereka diberi hadiah ut memilih tontonan 'sehat' sebelum tidur.

Alhamdulillah kesibukan dan minimnya kesempatan Ummi terkonek dg internet di laptop ini menyelamatkan Ummi. Tidak sibuk membaca berita yang bisa mempengaruhi hati. Bisa lebih memanfaatkan waktu untuk hal lain yg lebih bermanfaat. InsyaAllah..
Saatnya tutup laptop lagi, Neng Una sudah banguuun..:)


Ada yg sibuk beramal.
Ada yang sibuk memikirkan amal orang lain hingga ianya lupa beramal.
Ada pula yang sibuk memberitakan keburukan orang lain sampai lalai ut memuhasabah dirinya sendiri. Lupa, menghitung kebaikan yg sudah dikumpulkan ut bekal di akhirat nanti.
Setiap jiwa ada ujiannya..
Teringat para sahabat yang menyediakan waktunya untuk memuhasabah diri sendiri. Sehingga senantiasa mempersiapkan diri ut beramal lebih baik lagi.
Semoga kesibukan dengan duo krucilku dihitung sebagai pemberat timbangan kebaikan ut pulang ke kampung akhirat nanti. Dan menghindarkanku untuk menyibukan diri atas perkara orang lain yg bisa mengurangkan timbangan amalku yang sedikit ini....

Aamiin..

Monday, 20 May 2013

Oleh-oleh Seminar Ketahanan Keluarga

Alhamdulillah bisa datang ke seminar 'Ketahanan Keluarga'
Anak-anak bareng Abahnya, jadi saya bisa full konsen mendengarkan yg disampaikan pembicara...
Ada beberapa hal yg sy dapatkan hari itu,

♥ Makin mengokohkan hati ut mendampingi kedua putri saya dan adik-adiknya (kelak), di rumah. Menghadapi tantangan zaman dengan do'a, cinta, keteladanan. Serta hati, telinga dan mata yang selalu terbuka. Entah apa jadinya kalau mereka memilih orang lain, bukan sy dan Abahnya, sebagai teman cerita.

♥ Makin menyadari betapa PR saya masih banyak. Ilmu saya masih cetek. Ketika Ali ra berkata, "Didik lah anakmu sesuai zamannya." Maka saya mengartikannya bahwa sy harus menjadi ibu gaul yang smart dan semoga shalihah. Ibu yang bijak yang mampu memilah dan memilih hal yang baik dari dunia luar. Bukan menjadikan anak steril, karena ia akan berhadapan dengan masyarakat, lingkungan, dan kehidupan. Tapi mendidik agar ia menjadi manusia yang imun, sehingga siap menjadi da'i dan da'iyah pembawa perubahan, penegak kalimatullah. Aamiin...

♥ Makin (belajar) bersabar. Tak ingin dua buah hati menjauh dari saya, dan menjadikan yang lain sebagai pengganti ibunya karena ibunya terlalu galak. (Na'udzubillahi min dzalik). Menjadi sahabat, bagi dua balita mungilku ^__^

♥ Makin sayang dengan si dia. Karena mau berada di rumah seharian penuh. Mengasuh dan mendidik anak-anak. Bahkan hingga malam menjelang. Ketika saya terkapar karena rahim bagian bawah yang sakit sepulangnya dari seminar, ia tetap sabar menemani anak-anak.

Alhamdulillah 'ala kuli hal....
Menjemput ilmu, mengejar hidayah. Hingga ketika pulang ke kampung akhirat nanti, ada hujah atas masa yang kuhabiskan ketika hidup di dunia.
Allahu'alam bi showab ...

Friday, 3 May 2013

Muraja'ahnya Neng Una

Cerita hari ini tentang gadis berusia 2 tahun.

Pagi itu kami sedang duduk-duduk. Perut sudah kenyang, badan Una pun sudah bersih. Mandi pagi-pagi.
"Teh, ngaji yuk!" ajak Ummi.
Gadis kecil itu pun melafazkan Basmallah. Namun tiba-tiba berhenti. Dia turun dari kursi lalu, "Qur'an... Qur'an...," si gadis kecil mencari Qur'an sambil berjalan ke arah kamar setrikaan. Ia tahu Umminya menyimpan Qur'an di kamar setrikaan, agar bisa nyetrika sambil muraja'ah.
"Pake Qur'an Abah saja ya Teh." Ummi mengambilkan Qur'an Abah yg disimpan di atas meja.
Lalu Qur'an Abah pun ia terima. Lalu Una duduk manis di kursi. Gayanya seperti muslimah yg sedang tilawah. Ia lalu membaca QS Al-Lahab berulang-ulang di halaman yg tertulis surat Al-Fatihah.. ^__^
Diajak baca An-Nass, gak mau. Hari ini pengennya surat Al-Lahab terus. :)
Lalu gadis mungil itu menatap Ummi, dan berkata, " Ummi coba!"
Awalnya Ummi tak faham.
Tapi.. ' Ting'...
Ummi pun mulai membaca Al-Fatihah. Mencoba menerjemahkan maksud Una. ia ingin Ummi melafazkan surat di halaman yg ia buka. Dan yup! Betul! Una ingin Ummi memurajaah hafalan Ummi, seperti yg sering ia lihat ketika Ummi setor hafalan. Setelah Al-Fatihah selesai, gadis kecil itu kembali menunjuk halaman sebelahnya.
Aamaaaan, awal surat Al-Baqarah masih Ummi hafal. :)
Namuun tiba-tiba ia membuka halaman yg di tengah, "Ini!" tunjuknya.
"Waaah surat yang itu mah Ummi belum hafal, Teh." Si Ummi tutup muka. Hafalannya baru yg pendek2. "Yang ini saja ya!" Ummi lalu membuka QS Al-Munafiquun.
Belum selesai Ummi memurajaah QS Al-Munafiquun, gadis kecil itu lalu memberikan Qur'annya, "Coba!" ucap mulut kecilnya.
Apa lagi niiy? Si Ummi menebak apa maunya neng Una. Tak lama terdengar dia membaca Al-Lahab (lagi).
Oooo ternyata neng Una pun mau memurajaah hafalannya. Ia meminta Ummi menyimaknya, seperti yg biasa Ummi lakukan ketika menyimak muraja'ah temen Ummi ketika kami berkumpul di 'lingkaran cinta'.

Subhanalllah....Sungguh Skenario Allah SWT itu sangat indah... ♥

Sy termasuk ibu yg mempercayai bahwa tarbiyah/pendidikan anak itu kapan saja dan dimana saja. Meski lelah, meski ribet, sy ingin anak-anak sy terlibat dalam dakwah. Menyaksikan dan merasakan indahnya dakwah. Serta menjadikan Qur'an teman setianya...
InsyaAllah....
Aamiin...

Monday, 25 February 2013

-What Brain Science Can’t Do-

Tulisan ini lanjutan dari ringkasan bagian Introduction dari buku 'Brain Rules for Baby : How to Raise a Smart and Happy Child from Zero to five'. Tulisan pertamanya membahas tentang mitos-mitos apa sj siy disekitaran otak bayi, nah tulisan lengkapnya bisa dilihat di sini

Sekarang kita akan membahas, apa siy yang ilmu parenting tidak bisa lakukan. Intinya, ilmu parenting khususnya riset mengenai otak bayi ini 'hanya' bisa menerangkan garis besar saja, pola kerja saja secara umum. Ia tidak bisa membuat rumus/solusi yang spesifik untuk setiap kasus. Ataupun rumus generik dalam kehidupan nyata. Untuk mendapatkan solusinya, maka setiap orang tua harus mempu mengenali anaknya dengan baik.
*Jleb... mantaaabbbb. Mengena banget... 
Kalau lagi insyaf, saya sering berkata pada diri sendiri, "Kalau bukan saya, ibunya yang belajar memahami anaknya, lalu siapa lagi? Saya yang mengandungnya selama 40 minggu. Dia ikut kemana saya pergi. Merasakan detak jantung saya. Memakan apa yang saya makan, meminum apa yang saya minum. Ikut kelelahan bersama fisik saya, bahkan mungkin mampu mengintip ruang hati saya ketika saya sedih,gembira, terharu dan bermacam perasaan lainnya. Sedikit banyak, selama 9 bulan itu si anak belajar dari dan bersama saya. Sungguhlah egois jika saya tidak berusaha untuk belajar, mendalami apa yang terbersit dalam hatinya."
Aah tapi ya begitulah.. si sayah mah egonya masih segunung. Makanya semangat baca buku ini. Salah satu ikhtiar untuk memahami, dan mendidik buah hati .... dengan cinta.

Ok back to the topic. 
Nah, si ilmu parenting ini sulit untuk menemukan rumus umum ut semua masalah dikarenakan 4 hal, yaitu :

1.      Setiap anak berbeda.

Susunan saraf-saraf dalam otak akan berbeda untuk setiap orang. Dua anak akan memberikan reaksi yang berbeda untuk setiap situasi yang sama. Jadi tidak ada satu nasihat tentang pendidikan terhadap anak yang pas untuk semua anak. Setiap saran sifatnya individual. Cara terbaik untuk mengetahui solusi dari setiap masalah, adalah kenali putra putri kita dengan baik. Meluangkan lebih banyak waktu dengan mereka. Mengetahui bagaimana mereka bersikap dan bereaksi terhadap suatu masalah. Dan tindakan apa yang berpengaruh atau tidak terhadap mereka.

Dari sisi ilmu parenting, kemampuan otak untuk merespon rangsangan dari lingkungannya amat sangatlah rumit dan membingungkan. Keunikan seseorang juga makin bertambah komplek karena dipengaruhi oleh budaya dan nilai di suatu system. Yang paling nampak perbedaannya adalah keluarga yang hidup dalam kemiskinan mempunyai masalah yang sangat berbeda dengan keluarga menengah-atas. Otak memberikan respon yang berbeda atas situasi tersebut. Sehingga hal yang sulit bagi seorang peneliti untuk ‘menghasilkan’ sebuah ilmu yg solutif untuk setiap kondisi. 
Jadi, ibu... yang paling bisa membantu anakmu, adalah dirimu. kenali ia dengan baik, singkirkan egomu. Mari kita rehat dari kericuhan dunia, untuk si dia yang kau cinta.



2.      Setiap orang tua berbeda.

Anak dibesarkan oleh dua sistem parenting yang berbeda. Sistem yang melekat pada diri ayah, dan ibu. Masing-masing memilki prioritas yang berbeda, dan hal ini bisa menjadi sumber konflik yang hebat.

Oleh karenanya diperlukan kerjasama antara ayah dan ibu. Kesepakatan-kesepakatan dalam mendidik anaknya. Namun kesepakatan itu tidak ada yang 100% berjalan sempurna. Ada saja hal-hal yang perlu dikompromikan lagi, dikaji ulang dan seterusnya. Hal ini terkadang menimbulkan kebingungan pada anak. Dan respon anak terhadap situasi ini akan berbeda. Hal ini juga menjadi hal yang rumit bagi sebuah riset untuk membuat satu formulasi yang khusus.

 Nah, kalau bagian ini memang perlu tenggang rasa, saling memahami, dan lapang dada antara ibu dan ayah. Kuncinya komunikasi kan ya? Tapi semuanya tidak semudah teori ternyata.


3.      Anak dipengaruhi oleh yang lain, lingkungan, teman, dan orang sekitarnya.

Ketika anak beranjak besar, kehidupannya akan semakin rumit. Ia akan pergi ke sekolah, bertemu dengan teman bermain di sekolah, di lingkungannya. Pergaulan dengan lingkungan ini akan membentuk karakternya. Biasanya pengaruh lingkungan ini cukup besar bagi kepribadian anak. Orangtua tidak bisa selamanya melindungi anak dari pengaruh orang lain. 
Partikel-partikel luar ini pulalah yang membuat peneliti sulit untuk menemukan formula khusus. Setiap lingkungan berbeda. Mungkin saja tindakan si anak dipengaruhi lingkungan A, B atau gabungan keduanya. Cukup rumit ya?



4.      Berhubungan namun bukan sebab akibat.

Andaikan susunan jaringan otak sama, dan semua orangtua mendidik dengan gaya yang sama, riset mengenai otak dan perilaku pada manusia tidak akan menemukan formula yang sempurna. Sebuah kejadian yang satu dengan yang lain mungkin berhubungan, tapi belum tentu merupakan hubungan sebab akibat.

Misalnya : Biasanya anak yang tantrum ketika mengamuk akan mengompol. Tapi tidak berarti bahwa mengompol menyebabkan tantrum. Sehingga ketika anak berhasil disembuhkan tantrumnya, maka ia tidak akan mengompol lagi.




Jadi yang bisa dilakukan dalam sebuah penelitian mengenai parenting ini adalah :

a.       Menemukan rahasia pola pendidikan yang bisa membuat anak pintar dan bahagia seperti apa adanya mereka. Tentunya dikaitkan dengan struktur, fungsi dari otak tersebut.

b.      Lalu memberikan resep rahasia tsb kepada orang tua yang ‘kehilangan’ sense / kepekaan dalam mendidik anak agar cerdas dan bahagia.

c.       Menilai bagaimana perkembangan anak tsb 20 tahun kemudian. Bagaimana karakter mereka berubah ketika dewasa.


Inilah yang dilakukan dalam ilmu pengetahuan. Melihat keterkaitan, bukan sebab akibat. Tapi tentu saja tidak pernah sempurna, karena Allah SWT menciptakan manusia berbeda dan mempunyai pribadi yg sangat komplek.

Allahu'alam bi showab...


Monday, 18 February 2013

Brain Rules for Baby : How to Raise a Smart and Happy Child from Zero to Five (I)

E-Book ini sudah di donlod kan oleh si Mas sejak kapan tauuun gt (hiperbola! ^__^). Dari dulu sudah niat mo dibaca, dan memang dibaca di hape yang imut. Lalu (rencananya) akan disarikan dan ditulis. Kan ilmu akan menguap eh lari kalau gak diiket. Tapi nya kitu, bagian penulisan inilah yang mandeg. Baca di hape pindah ke laptop -dengan laptop minjem da punya saya mah sudah bye-bye- ternyata perlu usaha yang keras. Ditambah dengan komitmen bahwa si laptop jangan sering dinyalakan, agar kiddos tidak minta nonton terus. Jadilah bagian penulisan ini tersendat eh tertunda dalam jangka waktu yang tidak menentu.

Berhubung besok bagian sy ngisi taklim ibu-ibu tentang tsaqofah, maka sy berjuang bangun pagi untuk bisa membaca ulang dan menuliskan isi e-book ini, sebagian. 

Jreng... Mari kita mulai ...

The Author / Penulis
John Medina. 
 
John Medina adalah seorang ahli biologi molekular, yang mempunyai ketertarikan besar pada penelitian tentang genetika dan pengaruhnya bagi gangguan kejiwaan. Dia juga seorang kosnsultan pribadi, atau konsultan pemecah masalah bagi industri ataupun lembagai penelitian umum yang memerlukan seorang ahli genetika yang memiliki pengalaman dalam memecahkan masalah mental. Medina juga pendiri dari Talaris institute, yang berlokasi di Seattle dekat dengan University of Washington. Sebuah lembaga yang meneliti tentang proses molekular, sel, dan perilaku pada janin.  



--INTRODUCTION--

E-Book keren ini dibuka dengan salah satu kalimat yang menarik perhatian saya,
"Having a first child is like swallowing an intoxicating drink made of equal parts joy and terror, chased with a bucket full of transitions nobody ever tells you about"
Terjemahan bebas versi saya dibantu mbah gugle,
"Memiliki anak pertama seperti meminum minuman yang memabukan, perpaduan antara kebahagiaan yang membuncah yang bercampur dengan kekhawatiran yang begitu besar. Berkejaran dengan sekeranjang penuh perasaan yang sulit dideskripsikan, dan tak ada seorang pun yang pernah menyampaikan/mengajari padanya tentang hal tersebut sebelumnya."

Yup! Thats right. Bercampurnya perasaan antara senang, bahagia, khawatir, gugup, takut salah dan lainnya. Sementara tak ada kursus sebelum melahirkan yang bisa menggambarkan perasaan ini beserta tips-tips anti galau untuk menangkalnya. Katakanlah ada kursus parenting sebelum melahirkan, tentu dengan tips2 merawat anak. Tentu saja sedikit banyak itu akan membantu. Namun tetap saja keadaan sesungguhnya lebih 'heboh' dan juga banyak hal lain yang unpredictable yang terjadi ketika si buah hati itu lahir.  Lha apalagi kalau kita hamil, melahirkan dan mendidik anak tanpa ilmu, akan lebih gonjang-ganjing lagi perasaan kita. betul ndak?

Ok.. lets continue to the next section...
*Guayaaa pake bahasa inggris ^__^

-MITOS - MITOS tentang Otak Bayi-
Yup bagian ini menerangkan tentang mitos yang beredar luas mengenai otak bayi. Penyebaran informasi melalui media masa, blog, nasihat orang tua, tetangga, teman dan kawan-kawan, yang biasanya tidak diiringi dengan fakta, just an advice turun temurun. Katanya.. katanya... begitu lhooo :).

Nah si om John ini kemudian bilang, "The great thing about science is that takes no sides- and no prisoners."
Maksudnya, berpeganglah pada science karena ilmu pengetahuan itu bebas dari keberpihakan dan tekanan. Artinya, setiap saran yang diberikan kepada kita harus kita cross-check dengan ilmu pengetahuan terkini.  Ketika kita mencari sumber ilmiahnya maka kita bisa memilih saran yang tepat dan terhindar dari mitos. Karena hasil penelitian itu baru bisa dipublis atau dibukukan setelah melalui literatur review (kajian pustaka) yang mendalam, lalu diiringi dengan tes/uji sample. Bahkan beberapa penelitian harus melalui seleksi ilmiah yang ketat sebelum akhirnya berhasil di publikasikan. Kalau pun toh ternyata salah atau data tidak cukup menunjang, biasanya tidak berapa lama kemudian ada hasil penelitian lain yang mengoreksi kesalahan tersebut. Jadi insyaAllah hasil riset ini bisa lebih kita percayai dari sekedar katanya.. katanya...
*ooo jadi sebagai ibu-ibu juga harus gape baca jurnal, dan memilih jurnal mana yang capable dan tidak.. eeeuuu ternyata bukan mahasiswi saja yang harus berjumpa dengan jurnal ya .. ^__*

Jom kita bahas isu eh mitos apa saja yang beredar di masyarakat...
 
1.  Memperdengarkan musik Klasik (salah satunya Mozart) kepada janin di dalam rahim, akan meningkatkan kemampuan matematikanya di maa depan.

*Heuheu.. ini mah iklan pisan. Iklan susu formula/susu ibu hamil di Indonesia, Malaysia biasanya
ada adegan si ibu lagi memperdengarkan musik klasik ke janinnya ^__^

Memang benar, bayi akan mengingat apa yang didengar, dicium, dan dirasa ketika masih di dalam rahim. (Tentang hal ini akan dijelaskan di bagian "Babies remember"). Tapi Om John ini bilang hal ini tidak ada hubungannya dengan kemampuan matematika. Kalau pengen anaknya pinter matematika, maka ... ajarkanlah impulse control di masa awal perkembangannya. Apakah impulse control itu? Nah hal ini akan diicarakan di bagian "Self Control". So kita skip dulu sampai saya selesai baca halaman 105 ya! :)


2. Sering-seringlah menonton film dengan bahasa tertentu, maka kemampuan anak terhadap bahasa tersebut akan meningkat! 

Sebenarnya, kata si Om John ini, DVD /film justru akan mengurangi kemampuan berbahasa anak (penjelasan di halaman lain). Memang benar kalau banyaknya kata yang bervariasi ketika kita berbicara pada bayi akan meningkatkan kemampuan IQ dan berbahasanya. Tapppiiii yaa.. itu harus dilakukan dengan komunikasi langsung. Real!. Person to person. Not between DVD and your baby.  Makanya kita harus cerewet dan banyak omong sama bayi kecil. Memang tampaknya dia cengengesan saja, tapi sebenarnya dia menangkap lebih banyak dari yang kita sadari.

3. Untuk meningkatkan kekuatan otaknya, Anak perlu belajar bahasa Prancis sejak usia 3 tahun. Serta ruangan yang dipenuhi dengan mainan yang "brain friendly' (merangsang otak-pen), serta koleksi DVD yang bermuatan pendidikan.

Hal terbaik untuk meningkatkan kemampuan otak anak adalah, sekotak kertas kosong, satu kotak penuh krayon, dan 2 jam waktu untuk bermain. Artinya biarkan anak explorasi dengan lingkungannya. Bermain! Merangsang kreatifitasnya. 
Hal terburuk untuk otak yang diberikan oleh orangtua kepada anak adalah TV! 
So, mari ajak kita bermain dan mengeksplorasi dunianya.

4. Mengatakan secara kontinyu pada anak bahwa dia adalah anak yang pintar, akan meningkatkan percaya dirinya.

Kenyataannya, terlalu banyak pujian akan membuat anak malas mengerjakan sesuatu yang penuh tantangan. Jika ingin anak anda cerdas, maka pujilah atas usaha yang telah dilakukannya. Sehingga ia tersemangati untuk menaklukan tantangan-tantangan yang lainnya.

Aaah jadi inget artikel dari Scientific America Mind tentang "Bagaimana mendidik anak agar Jenius." Kurang lebih isinya sama. 

5. Anak-anak akan menemukan kebahagiaannya sendiri.

Mempunyai teman, adalah kebahagian yang luar biasa. Jadi, bagaimana agar anak mempunyai teman dan mampu menjaga pertemanan yang sudah dimilikinya? Yaitu dengan menjadi anak yang mampu bersosialisasi dan berkomunikasi dengan baik.Intinya melatih kepekaan dirinya. Skil ini bisa terasah. Salah satunya dengan mendengarkan musik, atau kalau boleh saya terjemahkan adalah seni. Seni ini mampu meningkatkan 50% kekepekaan pribadinya. 


Nah itu dulu d! Kalau kepanjangan gak asyik juga bacanya. Cape!

Semoga akan ada tulisan-tulisan berikutnya dari e-book ini ya.
Ingat ingat, ikatlah ilmu dengan menulisnya!