Saturday, 4 December 2010

memiliki hati

memiliki hati tidak senantiasa harus selalu bersama,
melantunkan dalam do'a
menyemangati dalam tulisan,
memberikan perhatian meskipun lewat dunia maya

masa lalu menjadi pengikat yang teramat manis,
apatah lagi ketika setiap pertemuan mampu menjadi sebuah tarbiyah,
meskipun gelak tawa, 'perdebatan' argumen kadang menghiasai perjumpaan
seringkali sedih pun tak terucap dalam kata, namun empati dan rasa menyayangi telah mengobati luka,

beribu memori telah terukir,
dengan amal menyertai setiap langkahnya, insyaAlloh ...

rindu yang tertahan entah kapan berbalas perjumpaan,
setiap jiwa kini ada yang 'memiliki'
mengikuti jalur, arah yang telah digariskan...

namun, insyaAlloh dengan berfastabiqul khairat..
saling mengingatkan seperti dulu,
beramal dengan sebaik - baiknya,
semoga Alloh berkenan mempertemukan kita dalam keadaan yang jauh lebih baik dari sebelumnya ...
aamiin

i miss u soo much Teh Upi

Thursday, 2 December 2010

dia

kau tahu
dia selalu memberikanmu ruang yang bebas dan besar untuk mengexpresikan diri

kau tahu
dia senantiasa memberikanmu sebuah kepercayaan yang begitu besar
dia juga selalu meng-encourage mu untuk maju lebih jauh lagi
dan itu membuatmu merasa berarti ..

egaliter, satu kata yang pertama kali kau dengar tenatng dia dari sahabatmu
tak faham waktu itu,
kini...
oo mungkin inilah yang dimaksud oleh sahabatnya...

kau tahu,
insyaAlloh kau akan nyaman melangkah bersamanya di sisimu

Wednesday, 1 December 2010

wanita di belakang panggung

seperti itulah cita-citaku dulu, hiruk pikuk di belakang panggung
dan kedepan saat pertunjukan telah usai, tepuk tangan bergemuruh ataupun tidak ...
meskipun kelihatan narsis, sebenarnya itu sebuah kamuflase akan rasa tidak percaya diri yang begitu besar ...

begitupun dalam kehidupan keluarga,
menjadi wanita di belakang panggung, mengantar suami dan buah hati menuju sukses dunia akhirat..
meskipun sering terselip keinginan untuk menjadi seorang tokoh, seseorang yang diperhitungan dan tampak berdaya guna bagi sekitarnya,
namun keinginan itu hanya sesaat, sering tenggelam ketika menyadari besarnya rasa tidak percaya diri dalam hati dan juga mengukur kemampuan yang tak seberapa...

menjadi wanita di belakang panggung, namun tetap berkontribusi, tentu bisa kan?
bukankah sebuah bangunan itu memerlukan pasir agar kokoh dan tegak berdiri..
tidak semuanya menjadi jendela, gagang pintu, daun pintu dan semua yang tampak indah oleh mata...
pasir itu tetap bagian penting dalam bangunan kokoh itu...


-Mas... Adek ingin menemanimu, mengantarkanmu dan buah hati kita menjadi seseorang ...-

Saya yang (ternyata) Angkuh

Angkuh, arogansi, sombong adalah sifat sifat yang sangat saya benci.
Ketika arogansi itu makin dipupuk kuat saat menjadi mahasiswi dan masuk Himpunan dulu, maka mulut ini sering kali ngomel dan ngeluh gak jelas..
Kenapa siyy mesti bangga dengan Himpunan, bangga itu dengan sebuah karya.. izzah itu beda dengan rasa bangga dan bla bla bla bla...

Merasa menjadi orang yang sangat tidak PD, sehingga menyimpulkan sendiri kalo gak PD artinya angkuh dan sombong itu pastinya jauh-jauh dari si gak PDan ...

Tapi ooo tapi ...
Ketika mengevaluasi diri, meskipun merasa tidak PD dengan kemampuan diri, si Rela ini adalah orang yang angkuh dan sombong ...

Sering malu untuk mengakui sebuah kesalahan...
Sering segan untuk meminta maaf duluan...
Sering merasa benar sendiri ...


Dan ketika membaca ini, saya makin menyadari ke-angkuhan yang begitu akuuuut...

Selama ini orientasi-ku pulang ke Tatar Sunda, kemanapun aku melanglang buana, maka taneuh sunda anu akhirna dijugjug....
Aku merasa tanah tempatku dilahirkan adalah tempat terbaik untukku, untuk tumbuh dan berkembang bersama suami dan anak-anakku..
Tempat dimana mudah bagiku untuk pulang ke kampung halamanku, merasakan aroma udara yang sama, nuansa rasa yang sama, keramahan yang sama .. semua rasa yang akrab dalam diriku selama 26 tahun...
Itulah kenapa aku meminta suamiku agar mau melamar ke almamater kami, atau ke kampus lain yang ada di Paris van Java...
Keukeuuuh pengen balik ke kampungku
Sementara suamiku, karena satu dan lain hal dia tidak bersedia melamar ke almamaternya ...
Serta memilih untuk melamar ke sebuah Universitas yang bukan berada di tanah kelahiranku...
Bagaimana denganku?
Aku mendukungnya, dengan setengah hati...
Bukan, bukan berarti tempat yang baru itu tidak bagus, banyak sekali hal menarik disana. Apalagi saudara-saudara saya yang bertemu di Johor banyak yang berasal dari sana.
Namun karena masih belum terbayang, menghabiskan banyak waktu di tempat yang selama ini belum akrab dengan saya ... 
Berat rasanya, sangat berat..
Bahkan sampai akhirnya kemaren pengumumannya keluar, dan alhamdulillah suami diterima disana..
Namun rasa berat itu masih menggelayuti dalam hatiku ...
Aku ingin pulang ke tanah lahirkuuuuuuuuuuuuuuuuu.....

Rasa arogansi juga sedikit menyelinap dalam hatiku, yang lain bisa pulang kembali ke almamaternya, kenapa kami tidak?
Merasa bahwa tempat terbaik untuk mengabdi adalah kampus kami tercinta...
Astagfirullah 'al adzim... perasaan sombong yang sangat luar biasa..


Hingga, seorang sahabat menyadarkanku lewat tulisannya, tulisan yang sederhana, manis dan langsung menancap di dalam dada...
"Berdasar pengalaman saya, ketika kita mempunyai niat baik, lalu kita paparkan dalam doa, kita implementasikan dalam kerja nyata sebaik yang kita bisa, kita akan menemukan sebuah kehidupan  yang begitu pantas untuk dicinta. Kita akan merasakan kenyamanan. Kita akan merasa kebahagiaan. Kita akan menemukan surga... "

Ah ucapan yang sangat mengena untuk seorang yang sangat angkuh seperti saya. Yang memikirkan dunia hanya dari kacamatanya pribadi. Yang seringkali tidak bersyukur atas tetesan nikmat yang telah Dia berikan. Yang sering mengeluh dan menginginkan sesuatu yang lebih dari apa yang di dapat...
seorang yang angkuh, ternyata...


*tulisan untuk memuhasabah diri... pengingat jika rasa angkuh dan sombong itu kembali menyergap di dada...
Mohon do'anya, agar hati ini senantiasa terjaga

Thursday, 18 November 2010

kangen


rindu ini sudah sangaaaaat dalam..
ingin menggenggam tangannya, memeluknya...
mendengarkan suaranya bukan dari segenggam telepon genggam
meyakinkan bahwa tubuhnya masih sehat,
memantapkan hati bahwa kehidupannya diliputi ketenangan..
menatapnya ...

tentu, aku dan yang lainnya selalu ada di dalam hatinya, fikirannya, membebaninya
tentu, kekhawatirannya tidak bisa tertutup oleh tawanya
bertahun-tahun senantiasa begitu,
berkorban lagi dan lagi untuk kami ..

ingin menghadirkan sebentuk kebahagian,
kebahagian yang tidak pernah bisa terukur oleh materi..
ingin menghaturkan ketenangan, agar mereka tak lagi merisaukan kami,
namun tetap saja, cinta yang begitu besar membuat mereka selalu menempatkan kami dalam hatinya..

sebait doa, sebentuk bakti dan ketaatan yang mungkin bisa saya dan kami haturkan
sebesar cinta yang bisa kuhaturkan untukmu, Apa ... Mamah...

I miss u so much ...
Aki, Ni, Teh Raina dan Aa Kembar
 

photo-na kenging nuhungkeun ti FB-na Uwa Eki .. nuhunnn :)

Abah dan Wafa di usia 2 tahun lebih

Lapor :
Tadi pagi Wafa mandi sama Abah ..

hampir semua kegiatan sudah dijalani Wafa bareng Abah, cuma makan saja yang belum sukses...
Si Abah kurang gigih dalam menyuapi, sama kayak Uminya  ..

*persiapan menjelang Wafa punya adek, Abah harus siap dalam segala kondisi bersama Wafa

pendapat Ummi :
Untuk tipe Ayah yang tidak terbiasa mengurusi anak kecil, Ibu harus mendukung dan mengusahakan agar Ayah bisa lebih dekat dengan buah hatinya ..

LuV


Tuesday, 16 November 2010

impian sederhana ...

yang tak sederhana bagiku..
mungkin sederhana bagi yang lain..

terinspirasi ketika membaca postingan seorang teman tentang mimpinya 10 tahun yang akan datang...
maka rela pun sadar, harus bermimpi agar tersemangati untuk mendekati sebuah tujuan

10 tahun lagi,
semoga suamiku tercinta sudah menemukan dunianya, tahu dimana tempat ia melabuhkan obsesinya, ada karyanya yang bermanfaat, dan aku tetap setia mendampinginya menapaki setiap langkah menuju kesana.
Semoga si rela ini bisa menjadi sandarannya ketika merasa lelah, tumpahan rasanya ketika galau, serta tempat pertama baginya berkeluh kesah .. Tentunya setelah berkeluh kesah pada Rabb Penggenggam Jiwa

10 tahun lagi,
semoga putra-putriku tumbuh dengan sehat, cerdas, dan shalih serta shalihah.
InsyaAlloh sepuluh tahun lagi Wafa berusia 12 tahun, semoga saat itu Wafa sedang meniti jalan menjadi hafidzah ya Nak, atau telah menjadi hafidzah? Aamiin
Yang jelas si Ummi berharap putri Ummi dan adik-adiknya senantiasa dekat dg Al-Qur'an, membacanya dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana dg Umminya?
Semoga lebih baik dr itu, walopun belum menjadi hafidzah at least hapalan yang sudah ada tidak hilang ... aamiin

10 tahun lagi,
Kami sudah mempunyai rumah, mungil pun tak apa .. semoga...

10 tahun lagi,
Bu Teguh Prakoso sudah pandai memasak , sehingga ketika Pak Teguh Prakoso mengundang kawan-kawannya ke rumah, maka Nyonya rumah dengan cekatan dan sigap menyiapkan makanannya..
Begitupun ketika Wafa dan adek-adeknya berangkat sekolah, bekal cantik, lezat dan bergizi sudah disiapkan si Ummi ..:)
Semoga tangan si Ummi ini cepat sembuh sehingga bisa segera bertempur di dapur .. aamiin

10 tahun lagi,
Rela 'harus' mempunyai keahlian yang khusus, insyaAlloh. Misal merajut, menyulam, merenda dsb. Gak mesti semua, tapi ada suatu keahlian yang bisa digunakan untuk mengisi waktu bermanfaat. Tentunya selain diisi dengan menebar cinta kepada anggota keluarga Teguh Prakoso, lingkungan dan juga tetap melestarikan membaca dan menulis, si rela ini 'harus' punya skill yang khusus, demi impiannya yang lain ...

10 tahun lagi
Semoga cita-cita memiliki keahlian yang khusus ini sudah tercapai ya, sehingga melangkah ke impian selanjutnya.. Menyebarkan keahlian yang dipunya kepada tetangga. Haaaahh..
Jangan tertawa yaaa....
Iya, pada tetangga, agar ibu-ibu disekitar rumah punya kesibukan, syukur-syukur bisa menghasilkan. Seorang Ibu dan istri kan harus mandiri ..
Bayanganku, lingkungan tempat kami tinggal nanti adalah lingkungan yang  sederhana, lingkungan kelas menengah. Dimana banyak istri yang full waktu di rumah, atau bekerja tapi tidak seharian. Lingkungan yang kutempati itu juga suasananya penuh kekeluargaan dan  dekat satu sama lain. Kedekatan itu bisa menjadi bencana jika tidak dimanfaatkan dengan baik, misalnya kasyikan merumpi hingga akhirnya timbul ghibah eh gossip ehhh.. musibah deh jadinya..
Makanya, biar bisa bergaul namun tidak lebur, si Rela ini harus bergaul yang memberikan manfaat 

10 tahun lagi..
Semoga seorang Rela bisa menjadi manusia yang bermanfaat..
Klise?...
Hemmh..
maksudnya apa ya?
Dari duluuu, sejak masih muda (heuuu berasa tua ), suka sedih kalo melihat anak anak jalanan, pengemis, atau siapapun yang kurang beruntung, terutama anak-anak ..
Pernah pingin ikutan ngajar anak jalanan yang bertempat di GOR sebelahnya BIP Bandung, tapi gak jadi karena kegiatannya malam ...
Nah, semoga 10 tahun lagi, rela sudah punya ide dan mampu merealisasikan sebuah gerakan sederhana untuk mencerdaskan anak-anak yang kurang beruntung..
Gak mesti yang muluk - muluk, dari sekitar tempat tinggal mungkin. Membuat sekolah mengaji Iqro misalnya...
Haaah kebayang, rumah penuh dg anak-anak yang belajar Iqro sehingga putra - putriku juga semangat untuk belajar dan dekat dengan Al-Qur'an ..
Atau membuat perpustakaan, seperti yang sudah dilakukan oleh banyak 'pejuang' di tempat lain
Hmmh atau mendidik sungguhan ..
Ya, membuat sekolah-sekolahan walopun ilegal, bukan semata agar anak didik mempunyai ijasah, tapi mengajarkan mereka membaca, berhitung, mengaji, dan memahamkan akan arti kemandirian. Tentunya meskipun ilegal, sekolah ini harus dilengkapi dengan buku yang banyak, agar mereka mampu mengenal dunia dengan bacaan yang disediakan disekolah tersebut. 
Tidak mesti datang setiap hari, karena mungkin berat bagi mereka untuk datang dan duduk manis sementara himpitan ekonomi memaksanya untuk bekerja
Tapi setidaknya kemampuan mereka membaca dan berhitung menjadi bekal agar nanti tidak ditipu..
Buku-buku yang mereka baca menjadi inspirasi untuk berkembang..
Dan tentunya, kalo memungkinkan ada skill khusus yang bisa diajarkan oleh sekolah ini, sehingga menjadi bekal mereka untuk menjadi entrepeneur .. aamiin
*langsung ngebayangin sekolahnya d!

Kalo sudah ada sekolah semacam ini ditempat kami tinggal nanti, mungkin saya akan bergabung saja. Bukankah lebih mudah untuk memajukan bangunan yang sudah ada?
Namun jika belum ada maka semoga saya memiliki azam yang kuat untuk merealisasikannya ..

aamiin



aaaaaaaaaah ngimpinya udah banyak ya?
hemmh jadi malu, mimpi yang mungkin bagi yg lain tampak aneh ...
tidak ada capaian pribadi, misal si rela 10 tahun lagi jadi direktur, berpenghasilan 5 M...(aamiin, hehehe bagian M M nya mah aamiin waeeee duong )
Namun menjadi wanita karir tidak pernah berada di list teratas dalam cita-citaku setelah berkeluarga. Sosok seorang istri yang mendampingi suami dan membesarkan anak-anaknya selalu menjadi prototipe idamanku ..
Jadi inget pelm taun 70an dan 80an deh, ibu-ibu memakai rok selutut dan disanggul mengantarkan suami dan anak-anaknya kedepan rumah .. heeeeuh swiiiit ... .
Tapi yang ini mah ibu-ibunya gak bersanggul, nganterinnya juga sampai pintu saja, malu kalo sampe depan soalnya masih dasteran dan males pake kaos kaki hihihihihi

Atau targetannya hmmh rumah mewah mobil empat heuheuheu..jujur, mau juga siyyy , kalo ada hehehe
Tapi berat kayaknya kalo impiannya seperti itu.., teu ka-otakan kalo kata bahasa sundanyamah
Jujur, saya pernah pusing sewaktu pulang dari seminar yang isinya menceritakan targetan-targetan duniawai, setelah A lalu cari B lalu cari C...heeeuuuuh gak kebayang .. ^__^, lieeeuur

Memang siy, pingin seperti Abu Bakar, Umar Bin Khatab, dan Utsman bin Affan serta sahabat-sahabat yang kaya raya lainnya, tapi tentunya tidak dengan target dan motivasi benda seperti rumah, kendaraan, jabatan... dll
Trus apa motivasinya..?
Ya motivasinya bekerja keras dan sungguh-sungguh, masalah hasil yang didapat insyaAlloh akan mengikuti kalo memang itu sudah bagian dari rizki kita ..

eeeh naha jadi ngalantur kiyeu?
nya kitulah pokonamah ...
Mohon do'anya yaaa, agar saya senantiasa istiqomah untuk berjuang mewujudkannya.
aamiin

Oia satu lagi, semoga dalam 10 tahun kedepan sudah bisa menjalankan ibadah haji... aamiin, sebelum 10 tahun juga maaaauuuuuuuuuuuuuu...
Untuk berhaji kan gak mesti kaya raya, insyaAlloh dengan azam yang kuat, diiringi dengan usaha (menabung).. Alloh akan mengundang kita ke rumahNya.. aamiin

*nunggu reda hujan, pikiran melayang ke si dia, jadi gak mood ngerjain thesis duuuh :(